Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 16 : Lolong Anjing di Gang Kos - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 15 Sebelumnya :
Doa yang Tak Pernah Dibalas


Episode 16 : Lolong Anjing di Gang Kos

Malam itu hujan turun tanpa jeda.
Kota terasa asing bagi Rama — lampu-lampu jalan seperti mata-mata yang menatap tanpa rasa, menelanjangi rindu yang ia bawa jauh-jauh dari desa. Jaket lusuhnya basah, sepatu berlumpur, dan gitar di punggungnya mulai lembab oleh embun dan air hujan.

Ia berhenti di ujung gang kecil — gang kos Saras.
Semuanya senyap. Hanya suara lolongan anjing dari kejauhan, bersahutan dengan tirai hujan yang menampar aspal.
Rama berdiri di bawah lampu redup, menatap satu jendela yang masih menyala samar.
Itu kamar Saras. Ia hafal bentuk tirainya, warna lampunya, bahkan bayangan pot bunga di tepinya.

Tangannya gemetar saat mengetik pesan:

“Aku di depan gang, Sar. Cuma pengin lihat kamu sebentar aja…”

Pesan terkirim.
Lama ia menunggu. Lima menit. Sepuluh. Dua puluh.
Tapi tak ada balasan.

Dari jendela itu, bayangan bergerak pelan — mungkin Saras memang membaca pesannya.
Atau mungkin hanya bayangan orang lain.
Rama tidak tahu. Ia hanya tahu, hujan malam ini terlalu jujur untuk menyembunyikan air mata.

Ia lalu duduk di depan warung kecil yang sudah tutup, menyalakan rokok dengan korek yang hampir habis.
Dari gitar di pangkuannya, mengalun lirih nada yang dulu sering membuat Saras tertawa.
Sekarang hanya menggema pelan, pecah di udara dingin.

“Cinta itu, Sar,” gumamnya di antara kepulan asap,
“kadang cuma tentang keberanian datang…
meski tahu tak akan disambut.”

Seekor anjing melintas, menggonggong ke arah bayangannya sendiri di genangan air.
Lalu sepi kembali menelan semuanya.

Rama memejamkan mata.
Mungkin malam ini adalah caranya berpamitan, tanpa kata, tanpa pelukan.
Karena cinta — yang dulu hangat dan penuh cahaya — kini tinggal bayangan di bawah lampu gang yang hampir padam.


Selanjutnya Episode 17 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising