Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur

Episode 10 Sebelumnya :

Episode 11 : Surat dari Dalam Kabut

Gunung Lembayung, hari keempat pendakian — jalur punggungan barat.

Kabut turun tanpa aba-aba.
Tidak lagi pelan seperti kemarin, tapi deras, padat, seperti tirai yang menutup seluruh dunia.
Arga melangkah pelan. Suara langkahnya di tanah basah terdengar seperti gema dari masa lalu.

“Arga, tunggu! Jalurnya ke kiri, bukan ke kanan!” seru Nara dari belakang.
Namun suara itu terasa jauh, terbelah kabut, seolah berasal dari dua arah sekaligus.

Arga berhenti. Di depannya berdiri sebuah pohon besar yang akarnya melilit batu-batu tua. Di antara akar itu terselip sesuatu yang tak lazim — selembar kertas kusam, basah oleh embun.
Ia meraihnya perlahan, membuka dengan jari gemetar. Tulisan di sana masih bisa terbaca:

“Untukmu yang masih mencari cahaya,
jangan tanya kenapa gunung tak mau tidur.
Sebab di setiap kabutnya, ada nama yang belum selesai kau panggil.”

— Raya.

Arga tertegun.
Napasnya tercekat. “Kak… Raya?”
Surat itu ditulis dengan tinta hitam yang sudah pudar, tapi tanda tangan di bawahnya tak mungkin ia salah ingat.

Ia menatap sekeliling. Kabut di depan bergerak seperti hidup. Di sela-selanya, samar-samar muncul bayangan seseorang berdiri di kejauhan — siluet laki-laki dengan ransel besar di punggung.
“Arga…” panggil suara itu lembut, namun mengguncang seluruh isi dadanya.
“Jangan teruskan kalau belum siap melepaskan.”

Tama dan Mira akhirnya sampai, terengah.
“Bro, lo ngomong sama siapa?” tanya Tama, menatap arah kabut.
Arga tak menjawab. Ia menatap surat di tangannya — tapi ketika hendak menunjukkannya, kertas itu sudah lenyap, hanya tersisa aroma tanah dan hujan.

Dari jauh, kabut mulai menipis sedikit.
Dan di antara celahnya, terlihat batu besar dengan tulisan samar:

“Raya Samudra — yang tak pernah pulang.”

Arga berlutut. Jari-jarinya gemetar menyentuh batu yang dinginnya seperti kulit waktu.
Mira mendekat perlahan. “Arga… apa itu makam?”
Arga menggeleng pelan. “Bukan makam… tapi tanda. Gunung ini tahu namanya.”


Catatan :

Di dunia pendakian, sering kita dengar: gunung bukan tempat mencari, melainkan tempat ditemukan.
Tapi kadang, yang ditemukan bukanlah jalan pulang, melainkan suara masa lalu yang menunggu di antara kabut — meminta untuk didengarkan sebelum akhirnya bisa tidur tenang.


Selanjutnya Episode 12 :
Bayangan di Api Unggun