Gunung yang Tak Mau Tidur - Episode 12 : Bayangan di Api Unggun - Karya R. Abim

 Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur

Episode 11 Sebelumnya :

Episode 12 : Bayangan di Api Unggun

Malam keempat pendakian. Suhu turun sampai menusuk tulang. Api unggun menjadi satu-satunya cahaya di tengah sunyi.

Arga duduk sedikit menjauh dari yang lain. Api unggun berderak kecil, memantulkan bayangan wajahnya di tanah yang lembap.
Tama dan Nara sibuk mengeringkan pakaian, sementara Mira diam, menatap nyala api dengan pandangan kosong.

“Ga kebayang, kan,” ujar Tama pelan, “batu itu, tulisan nama Kak Raya… kayak siapa yang tahu masa lalu kita?”
Nara menimpali, “Mungkin bukan siapa, Tam… tapi apa.”

Hening.
Api mengecil, angin membawa abu terbang ke udara.
Arga membuka tasnya. Dari dalam ia keluarkan potongan kertas yang tadi sore ia temukan di dekat batu bertuliskan nama kakaknya. Kertas itu seperti lanjutan dari surat sebelumnya — hanya separuh terbakar, tapi masih bisa terbaca.

“Aku janji, kalau aku tak kembali, jaga ia… jaga penunggu itu agar tak sendirian di puncak…”

Arga membaca pelan. Suaranya bergetar.
“Penunggu itu?” gumamnya.
Mira mendekat. “Maksudnya… roh gunung?”

Tiba-tiba, api unggun berdesis keras, nyalanya memanjang ke atas, membentuk siluet seperti tubuh manusia. Mereka terdiam, tak sempat bergerak.
Bayangan itu tak memiliki wajah, hanya bentuk samar, tapi suaranya terdengar jelas:

“Janji belum ditepati. Gunung belum tidur.”

Arga berdiri spontan, matanya menatap dalam pada api itu.
“Siapa kau? Apa yang Kak Raya janjikan padamu?”

Suara itu tidak menjawab, tapi nyala api bergoyang liar — dan dari arah kabut terdengar tangisan lembut perempuan, melengking lalu hilang bersama angin.
Mira menjerit kecil, menutup telinga.
Tama menepuk bahu Arga keras-keras, “Bro, udah cukup! Ini bukan hal yang bisa lo tanya kayak orang biasa!”

Namun Arga tetap menatap api itu, menolak mundur.
“Kalau kau butuh jawaban, tunjukkan padaku… siapa yang belum tenang di gunung ini?”

Api perlahan padam. Gelap menggantikan segalanya.
Dan dalam kegelapan, terdengar bisikan serak di dekat telinga Arga:

“Kau… yang akan menepati janji itu.”

Saat fajar datang, api unggun hanya tersisa abu dingin dan lingkar batu yang menghitam.
Tama terbangun lebih dulu, lalu memanggil lirih, “Arga? Arga di mana?”
Tidak ada jawaban.
Hanya bekas jejak sepatu menuju arah utara — jalur yang tak pernah mereka lalui sebelumnya.


Catatan :

Kadang yang memanggil kita bukanlah masa lalu, tapi janji yang belum ditepati.
Di Gunung Lembayung, api unggun bukan sekadar penerang malam, melainkan cermin bagi jiwa-jiwa yang pernah berjanji dan belum sempat pulang.
Arga kini bukan hanya mendaki gunung, tapi menapaki garis takdir yang ditinggalkan kakaknya — di antara bayangan, doa, dan waktu yang belum sempat padam.


Selanjutnya Episode 13 :
Pelukan di Antara Dua Dunia

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising