Hujan sore itu turun ringan, seperti perasaan yang tak pernah benar-benar reda.
Raka duduk di meja kayu belakang kedai kopi tempat ia dulu membacakan puisinya. Panggung kecil itu kini sepi. Hanya kursi-kursi kosong, bau kopi dingin, dan suara sendok yang beradu di gelas.
Di hadapannya terbuka selembar kertas — bukan untuk siapa-siapa, tapi entah mengapa, nama Aurora tetap muncul di baris pertama.
Ia tak menulis “Kepada” atau “Dari”. Hanya bait-bait yang mengalir dari hati yang tak tahu harus pulang ke mana.
“Aku menulis bukan untuk dibaca,
tapi untuk menjaga ingatan agar tak mati.
Setiap kata yang lahir,
seperti langkah yang tertinggal di hujan sore —
basah, namun tak pernah tiba.”
Raka menghela napas panjang. Kertas itu diletakkan di atas meja, membiarkannya basah oleh titik air dari langit-langit bocor. Ia sadar, surat itu mungkin takkan pernah terkirim. Tapi setiap huruf adalah cara untuk tetap bernapas.
Di luar jendela, seorang pengamen tua memetik gitar dengan nada serak. Lagu yang ia nyanyikan — “Cintaku Tersisa di Senja” — terdengar fals, tapi justru di situlah letak kejujurannya.
Orang-orang di dalam kedai sibuk menunduk ke layar ponsel, tak satu pun menoleh.
Raka diam, menyelipkan selembar uang kecil di topi butut sang pengamen.
“Terus nyanyi, Pak… biar kota ini masih punya suara manusia,” ucapnya lirih.
Dan di sudut lain kedai, Aurora duduk.
Ia tidak mendekat, hanya memandang dari balik kaca, membiarkan dirinya ditikam rasa yang ia kira sudah padam.
Tatapannya jatuh pada kertas yang ditinggalkan Raka di meja. Angin berhembus pelan — membawa satu lembar kertas itu ke lantai.
Aurora membungkuk, mengambilnya. Di baris terakhir tertulis:
“Jika suatu hari kau membaca ini,
anggaplah aku sedang berlatih untuk ikhlas.”
Aurora menggenggam kertas itu lama, terlalu lama.
Sementara di luar, hujan turun semakin deras —menyembunyikan air mata yang jatuh tanpa izin.

0 Komentar