Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur
Episode 9 Sebelumnya :
Episode 10 : Puncak yang Menolak Matahari
Gunung Lembayung, ketinggian 2.980 mdpl — fajar yang tak jadi lahir.
Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Seperti selimut yang terlalu berat, menekan pandangan dan pernapasan.
Arga berjalan paling depan, menuntun langkah Nara dan Tama, sementara Mira beberapa meter di belakangnya tampak kelelahan. Lentera senter di tangan mereka hanya mampu menembus kabut sejengkal saja.
“Jam lima lewat dua puluh… tapi kenapa masih gelap?” bisik Mira, suaranya nyaris tertelan angin.
Arga tidak menjawab. Di dadanya, kompas bergetar seperti punya nyawa sendiri. Jarumnya berputar cepat, lalu berhenti tepat ke arah timur — tapi dari sana justru datang kabut paling tebal.
Saat mereka mencapai punggungan terakhir sebelum puncak, angin tiba-tiba berhenti.
Sunyi. Hanya detak jantung yang terasa nyata.
Tama menatap Arga, lalu berkata pelan, “Bro… seolah gunung nggak mau disinari matahari, ya?”
Arga menatap langit yang berwarna abu. Matahari mencoba menembus kabut, tapi sinarnya selalu patah di tengah jalan.
Seakan ada sesuatu di atas sana yang menolak terang.
Mira menunduk, tangannya menyentuh batu besar di sisi jalur. Batu itu dingin luar biasa — dan di permukaannya tergores samar tulisan yang seolah baru dibuat:
“Aku menunggu di antara kabut dan kenangan.”
Tulisan itu membuat mereka semua saling pandang.
“Siapa yang nulis ini?” tanya Nara, suaranya parau.
Tak ada yang menjawab.
Lalu, dari sela kabut, terdengar langkah kaki ringan. Seorang perempuan berpakaian pendaki, dengan syal biru di lehernya, melangkah mendekat. Ia tersenyum samar pada Arga.
Namun sebelum Arga sempat memanggil, sosok itu menghilang — seolah diserap kabut.
Kompas di dada Arga kembali berputar.
Arga memejamkan mata, menahan sesak yang aneh. “Sera…?” bisiknya lirih, meski ia tak tahu dari mana nama itu datang.
Matahari akhirnya muncul, tapi tidak memancarkan terang — hanya warna pucat yang menatap dari balik kabut tebal.
Gunung seolah benar-benar menolak matahari hari itu.
Catatan :
Alam kadang menolak cahaya bukan karena benci pada terang, melainkan karena ia menyimpan sesuatu yang belum selesai di dalam gelapnya.
Gunung Lembayung, dengan kabutnya yang menutup puncak, mungkin hanya ingin memastikan: siapa yang datang untuk menaklukkan, dan siapa yang datang untuk mendengar.
Selanjutnya Episode 11 :
Surat dari Dalam Kabut
Gunung Lembayung, ketinggian 2.980 mdpl — fajar yang tak jadi lahir.
Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Seperti selimut yang terlalu berat, menekan pandangan dan pernapasan.
Arga berjalan paling depan, menuntun langkah Nara dan Tama, sementara Mira beberapa meter di belakangnya tampak kelelahan. Lentera senter di tangan mereka hanya mampu menembus kabut sejengkal saja.
“Jam lima lewat dua puluh… tapi kenapa masih gelap?” bisik Mira, suaranya nyaris tertelan angin.
Arga tidak menjawab. Di dadanya, kompas bergetar seperti punya nyawa sendiri. Jarumnya berputar cepat, lalu berhenti tepat ke arah timur — tapi dari sana justru datang kabut paling tebal.
Saat mereka mencapai punggungan terakhir sebelum puncak, angin tiba-tiba berhenti.
Sunyi. Hanya detak jantung yang terasa nyata.
Tama menatap Arga, lalu berkata pelan, “Bro… seolah gunung nggak mau disinari matahari, ya?”
Arga menatap langit yang berwarna abu. Matahari mencoba menembus kabut, tapi sinarnya selalu patah di tengah jalan.
Seakan ada sesuatu di atas sana yang menolak terang.
Mira menunduk, tangannya menyentuh batu besar di sisi jalur. Batu itu dingin luar biasa — dan di permukaannya tergores samar tulisan yang seolah baru dibuat:
“Aku menunggu di antara kabut dan kenangan.”
Tulisan itu membuat mereka semua saling pandang.
“Siapa yang nulis ini?” tanya Nara, suaranya parau.
Tak ada yang menjawab.
Lalu, dari sela kabut, terdengar langkah kaki ringan. Seorang perempuan berpakaian pendaki, dengan syal biru di lehernya, melangkah mendekat. Ia tersenyum samar pada Arga.
Namun sebelum Arga sempat memanggil, sosok itu menghilang — seolah diserap kabut.
Kompas di dada Arga kembali berputar.
Arga memejamkan mata, menahan sesak yang aneh. “Sera…?” bisiknya lirih, meski ia tak tahu dari mana nama itu datang.
Matahari akhirnya muncul, tapi tidak memancarkan terang — hanya warna pucat yang menatap dari balik kabut tebal.
Gunung seolah benar-benar menolak matahari hari itu.
Catatan :
Alam kadang menolak cahaya bukan karena benci pada terang, melainkan karena ia menyimpan sesuatu yang belum selesai di dalam gelapnya.
Gunung Lembayung, dengan kabutnya yang menutup puncak, mungkin hanya ingin memastikan: siapa yang datang untuk menaklukkan, dan siapa yang datang untuk mendengar.
Surat dari Dalam Kabut

0 Komentar