Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur
Episode 8 Sebelumnya :
Episode 9 : Langit Retak di Balik Lentera
Pagi itu, kabut belum mau naik.
Udara terlalu diam, seolah gunung sedang menahan napas.
Arga terbangun lebih dulu dari yang lain. Ia menatap sekeliling—tenda Mira setengah terbuka, kompas di pangkuan, dan secarik kertas berisi koordinat tertulis dengan tulisan tangan Kak Raya.
Padahal peta itu seharusnya ia simpan di saku sendiri.
“Tama, kau yang pindahkan ini?”
Tama menggeleng sambil menguap. “Belum sempat. Semalam aku cuma nambah kayu bakar.”
Namun Mira berdiri tiba-tiba, wajahnya pucat.
“Arga… Nara belum bangun.”
Tenda Nara kosong. Sleeping bag-nya terlipat rapi, tapi tas gunung dan jaketnya hilang.
Yang tersisa hanyalah lentera tua di depan tendanya, masih menyala redup meski siang mulai datang.
Tama menelan ludah. “Dia keluar subuh-subuh? Sendirian?”
Arga memungut lentera itu. Kaca di sisinya retak seperti dijatuhi batu.
Dan di bawah retakan itu, tertulis nama yang nyaris pudar oleh embun:
Raya Samudra.
Hening.
Bahkan angin tak berani lewat.
Mira berbisik, “Itu nama kakakmu, kan?”
Arga mengangguk pelan, nadanya hampir seperti doa:
“Ya… dan ini lentera yang ia bawa di pendakian terakhirnya.”
Tama berusaha menyalakan HT, tapi hanya terdengar suara gemerisik seperti desir air.
Dari kejauhan, samar-samar terdengar petikan gitar — tiga nada pendek yang Arga sangat kenal.
Nada dari lagu terakhir Kak Raya sebelum menghilang di puncak lima tahun lalu.
“Tidak mungkin…” gumam Arga. Ia mulai berjalan ke arah suara itu.
Mira menahan lengannya. “Arga! Kalau itu bukan manusia—”
“Kalau bukan manusia, maka biarkan aku tahu siapa yang memanggil dengan lagu kakakku!”
Langkah Arga menembus kabut, suara petikan gitar semakin jelas.
Ia sampai di tepi jurang kecil. Di bawah sana, samar terlihat siluet seseorang duduk di batu, menunduk memainkan gitar.
Tapi saat kabut bergeser—yang duduk itu bukan Nara, bukan manusia,
melainkan bayangan putih dengan wajah separuh mirip dirinya sendiri.
Arga terjatuh mundur. Lentera di tangannya pecah.
Dari celah cahaya terakhir lentera itu, muncul kilasan gambar:
Kak Raya, berdiri di tempat yang sama, dikelilingi kabut dan dua bayangan lain.
Suara Kak Raya terdengar jauh—seolah datang dari bawah tanah:
“Kau akhirnya sampai di sini, Arga… tapi jangan biarkan gunung ini menelan lagi.”
Arga berteriak, “Kakak di mana?!”
Tak ada jawaban, hanya suara petikan gitar yang memudar perlahan…
dan dari bawah jurang, terdengar sayup teriakan Nara.
“Arga! Tolong!”
Mira dan Tama datang berlari. Kabut menutup pandangan.
Suara itu makin jauh, makin lemah—hingga akhirnya hilang sama sekali.
Yang tersisa hanya batu basah dan lentera yang padam.
Langit mulai berwarna merah pucat — tapi bukan karena matahari terbit.
Cahaya itu seperti darah yang menguap dari tanah,
membentuk retakan di langit, persis di atas kepala mereka.
Mira menggenggam tangan Arga. “Gunung ini… menolak pagi.”
Arga menatap langit retak itu dan berbisik lirih,
“Kalau gunung ini tak mau tidur… mungkin karena ada nama yang belum pulang.”
Catatan :
Edisi ini menandai titik balik “Gunung yang Tak Mau Tidur”.
Di sini, rasa kehilangan berubah menjadi pintu spiritual: antara kasih, nyawa, dan pesan yang tertinggal di kabut. Lentera yang retak bukan sekadar simbol kematian, tapi tanda bahwa cinta dan roh belum selesai berbicara.
Selanjutnya Episode 10 :
Puncak yang Menolak Matahari
Pagi itu, kabut belum mau naik.
Udara terlalu diam, seolah gunung sedang menahan napas.
Arga terbangun lebih dulu dari yang lain. Ia menatap sekeliling—tenda Mira setengah terbuka, kompas di pangkuan, dan secarik kertas berisi koordinat tertulis dengan tulisan tangan Kak Raya.
Padahal peta itu seharusnya ia simpan di saku sendiri.
“Tama, kau yang pindahkan ini?”
Tama menggeleng sambil menguap. “Belum sempat. Semalam aku cuma nambah kayu bakar.”
Namun Mira berdiri tiba-tiba, wajahnya pucat.
“Arga… Nara belum bangun.”
Tenda Nara kosong. Sleeping bag-nya terlipat rapi, tapi tas gunung dan jaketnya hilang.
Yang tersisa hanyalah lentera tua di depan tendanya, masih menyala redup meski siang mulai datang.
Tama menelan ludah. “Dia keluar subuh-subuh? Sendirian?”
Arga memungut lentera itu. Kaca di sisinya retak seperti dijatuhi batu.
Dan di bawah retakan itu, tertulis nama yang nyaris pudar oleh embun:
Raya Samudra.
Hening.
Bahkan angin tak berani lewat.
Mira berbisik, “Itu nama kakakmu, kan?”
Arga mengangguk pelan, nadanya hampir seperti doa:
“Ya… dan ini lentera yang ia bawa di pendakian terakhirnya.”
Tama berusaha menyalakan HT, tapi hanya terdengar suara gemerisik seperti desir air.
Dari kejauhan, samar-samar terdengar petikan gitar — tiga nada pendek yang Arga sangat kenal.
Nada dari lagu terakhir Kak Raya sebelum menghilang di puncak lima tahun lalu.
“Tidak mungkin…” gumam Arga. Ia mulai berjalan ke arah suara itu.
Mira menahan lengannya. “Arga! Kalau itu bukan manusia—”
“Kalau bukan manusia, maka biarkan aku tahu siapa yang memanggil dengan lagu kakakku!”
Langkah Arga menembus kabut, suara petikan gitar semakin jelas.
Ia sampai di tepi jurang kecil. Di bawah sana, samar terlihat siluet seseorang duduk di batu, menunduk memainkan gitar.
Tapi saat kabut bergeser—yang duduk itu bukan Nara, bukan manusia,
melainkan bayangan putih dengan wajah separuh mirip dirinya sendiri.
Arga terjatuh mundur. Lentera di tangannya pecah.
Dari celah cahaya terakhir lentera itu, muncul kilasan gambar:
Kak Raya, berdiri di tempat yang sama, dikelilingi kabut dan dua bayangan lain.
Suara Kak Raya terdengar jauh—seolah datang dari bawah tanah:
“Kau akhirnya sampai di sini, Arga… tapi jangan biarkan gunung ini menelan lagi.”
Arga berteriak, “Kakak di mana?!”
Tak ada jawaban, hanya suara petikan gitar yang memudar perlahan…
dan dari bawah jurang, terdengar sayup teriakan Nara.
“Arga! Tolong!”
Mira dan Tama datang berlari. Kabut menutup pandangan.
Suara itu makin jauh, makin lemah—hingga akhirnya hilang sama sekali.
Yang tersisa hanya batu basah dan lentera yang padam.
Langit mulai berwarna merah pucat — tapi bukan karena matahari terbit.
Cahaya itu seperti darah yang menguap dari tanah,
membentuk retakan di langit, persis di atas kepala mereka.
Mira menggenggam tangan Arga. “Gunung ini… menolak pagi.”
Arga menatap langit retak itu dan berbisik lirih,
“Kalau gunung ini tak mau tidur… mungkin karena ada nama yang belum pulang.”
Catatan :
Edisi ini menandai titik balik “Gunung yang Tak Mau Tidur”.
Di sini, rasa kehilangan berubah menjadi pintu spiritual: antara kasih, nyawa, dan pesan yang tertinggal di kabut. Lentera yang retak bukan sekadar simbol kematian, tapi tanda bahwa cinta dan roh belum selesai berbicara.
Puncak yang Menolak Matahari

0 Komentar