Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur
Episode 7 Sebelumnya :
Episode 8 : Kopi, Rokok, dan Doa di Ketinggian
Malam itu, kabut naik lebih cepat dari biasanya.
Langit tak menampakkan bintang, hanya abu tipis yang mengambang di antara suara jangkrik dan desir angin.
Tim Mapala Arunika mendirikan tenda di dataran sempit di atas lembah — tak jauh dari tempat Arga melihat sosok berjubah putih sore tadi.
Bara api kecil menyala di tengah lingkaran, membuat wajah mereka tampak bergantian antara terang dan gelap.
Tama menyalakan rokok, asapnya membentuk lingkaran samar.
“Gunung ini benar-benar aneh,” gumamnya. “Aku merasa ada yang memperhatikan kita.”
Mira membenarkan letak kompas dan peta di pangkuannya.
“Dari tadi jarum kompas berputar, tidak mau diam. Seolah kehilangan arah.”
Ia menatap Arga. “Kau yakin masih mau lanjut besok pagi?”
Arga diam, menatap api.
Lalu pelan, ia mengeluarkan bungkus kopi instan yang sudah lembek karena lembab, menuangkannya ke gelas kaleng.
Aroma pahitnya segera bercampur dengan udara dingin — aroma yang membuatnya teringat sesuatu.
“Kak Raya selalu bilang,” ujar Arga lirih, “kopi di gunung itu doa.
Setiap hirupannya adalah harapan agar kita bisa pulang.”
Mira tersenyum kecil. “Dan rokok?”
Arga memandangi bara yang redup di ujung jari Tama.
“Rokok… itu kenangan yang tak mau padam.”
Hening panjang menyusul.
Dari kejauhan, terdengar desir angin seperti suara seseorang berbisik pelan di antara pepohonan.
Arga menoleh. Kabut bergerak seperti hidup.
Dan di sela abu unggun, ia melihat bayangan perempuan berjubah putih berdiri di balik pohon cemara.
Ia tidak ketakutan kali ini. Justru tenang.
Perempuan itu menatapnya — lalu perlahan mengangkat tangan, seperti meminta api.
Arga menyalakan rokok baru, meniupkan asap ke arah bayangan itu.
Asapnya menari, membentuk bentuk wajah samar… Kak Raya.
Arga tertegun. “Kak…”
Namun bayangan itu menghilang, berganti dengan desir kabut dan suara yang nyaris tak terdengar:
“Jangan berhenti di tengah jalan, Arga. Gunung ini belum selesai berbicara.”
Mira menatap Arga, bingung. “Kau bicara dengan siapa?”
Arga menunduk, suaranya nyaris pelan.
“Dengan doa yang tersesat di antara kabut.”
Angin berembus lembut, membuat api unggun goyah.
Bara terakhir dari rokok Tama padam — tapi dari arah lembah, tiba-tiba muncul cahaya kecil seperti lentera kuno, bergerak pelan menuju puncak.
Arga berdiri. “Kita harus sampai di sana.”
Mira menatapnya, matanya memantulkan cahaya api.
“Meski gunung tak mau tidur?”
Arga mengangguk. “Justru karena itu, kita harus mendengarkannya.”
Di langit tanpa bintang, aroma kopi masih tersisa — seperti doa yang belum selesai diucapkan.
Selanjutnya Episode 9 :
Langit Retak di Balik Lentera
Malam itu, kabut naik lebih cepat dari biasanya.
Langit tak menampakkan bintang, hanya abu tipis yang mengambang di antara suara jangkrik dan desir angin.
Tim Mapala Arunika mendirikan tenda di dataran sempit di atas lembah — tak jauh dari tempat Arga melihat sosok berjubah putih sore tadi.
Bara api kecil menyala di tengah lingkaran, membuat wajah mereka tampak bergantian antara terang dan gelap.
Tama menyalakan rokok, asapnya membentuk lingkaran samar.
“Gunung ini benar-benar aneh,” gumamnya. “Aku merasa ada yang memperhatikan kita.”
Mira membenarkan letak kompas dan peta di pangkuannya.
“Dari tadi jarum kompas berputar, tidak mau diam. Seolah kehilangan arah.”
Ia menatap Arga. “Kau yakin masih mau lanjut besok pagi?”
Arga diam, menatap api.
Lalu pelan, ia mengeluarkan bungkus kopi instan yang sudah lembek karena lembab, menuangkannya ke gelas kaleng.
Aroma pahitnya segera bercampur dengan udara dingin — aroma yang membuatnya teringat sesuatu.
“Kak Raya selalu bilang,” ujar Arga lirih, “kopi di gunung itu doa.
Setiap hirupannya adalah harapan agar kita bisa pulang.”
Mira tersenyum kecil. “Dan rokok?”
Arga memandangi bara yang redup di ujung jari Tama.
“Rokok… itu kenangan yang tak mau padam.”
Hening panjang menyusul.
Dari kejauhan, terdengar desir angin seperti suara seseorang berbisik pelan di antara pepohonan.
Arga menoleh. Kabut bergerak seperti hidup.
Dan di sela abu unggun, ia melihat bayangan perempuan berjubah putih berdiri di balik pohon cemara.
Ia tidak ketakutan kali ini. Justru tenang.
Perempuan itu menatapnya — lalu perlahan mengangkat tangan, seperti meminta api.
Arga menyalakan rokok baru, meniupkan asap ke arah bayangan itu.
Asapnya menari, membentuk bentuk wajah samar… Kak Raya.
Arga tertegun. “Kak…”
Namun bayangan itu menghilang, berganti dengan desir kabut dan suara yang nyaris tak terdengar:
“Jangan berhenti di tengah jalan, Arga. Gunung ini belum selesai berbicara.”
Mira menatap Arga, bingung. “Kau bicara dengan siapa?”
Arga menunduk, suaranya nyaris pelan.
“Dengan doa yang tersesat di antara kabut.”
Angin berembus lembut, membuat api unggun goyah.
Bara terakhir dari rokok Tama padam — tapi dari arah lembah, tiba-tiba muncul cahaya kecil seperti lentera kuno, bergerak pelan menuju puncak.
Arga berdiri. “Kita harus sampai di sana.”
Mira menatapnya, matanya memantulkan cahaya api.
“Meski gunung tak mau tidur?”
Arga mengangguk. “Justru karena itu, kita harus mendengarkannya.”
Di langit tanpa bintang, aroma kopi masih tersisa — seperti doa yang belum selesai diucapkan.
Langit Retak di Balik Lentera

0 Komentar