Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur
Episode 6 Sebelumnya :
Episode 7 : Lembah yang Menyimpan Waktu
Kabut pagi turun begitu rendah hingga seolah menyentuh ubun-ubun.
Langkah tim Mapala Arunika berat setelah malam yang dingin dan kompas yang seolah mempermainkan arah.
Di depan, Arga berhenti.
“Lihat itu,” katanya pelan.
Di antara sela kabut, tampak lembah yang tak ada di peta — tersembunyi di balik gugusan batu besar, seperti dunia yang sengaja disembunyikan.
Ada danau kecil di tengahnya, tenang seperti cermin.
Mereka menuruni jalur sempit dengan hati-hati. Tak ada suara selain desir angin dan detak jantung yang berkejaran dengan rasa ingin tahu.
Saat tiba di tepi danau, Mira berjongkok, mencelupkan jari ke air.
“Dingin sekali… seperti waktu yang nggak mau bergerak,” gumamnya.
Arga menatap permukaan air.
Ia melihat pantulan wajahnya — tapi di sampingnya, terlihat bayangan seorang perempuan, berdiri diam, tersenyum samar.
Ketika Arga menoleh, tak ada siapa pun di sana.
Namun dari dasar air, muncul gelembung kecil, satu-satu, seolah danau itu sedang bernapas.
Nara menatap jam tangannya.
“Ini aneh. Aku matikan tadi malam, tapi jarumnya tetap jalan… mundur.”
Mereka semua saling berpandangan.
Arga berjongkok, memandangi air lagi.
Kali ini ia melihat wajah lain — Raya, kakaknya — tersenyum dari bawah permukaan air, sebelum perlahan menghilang.
Angin berembus lirih, membawa aroma daun kering dan tanah basah.
Suara Tama memecah kesunyian:
“Kalian sadar nggak… dari tadi nggak ada suara burung sama sekali?”
Semua terdiam.
Kabut menebal.
Di tengah kesunyian itu, Arga menyentuh air dengan jemarinya.
Seketika terasa hangat — bukan dingin — seolah air itu menyimpan napas manusia.
Arga menarik tangannya cepat, tapi di telapak tangannya kini tergores samar bentuk huruf seperti coretan jari di pasir:
R A Y A
Mira berbisik, “Gunung ini nggak cuma punya jalur, Ga… dia juga punya ingatan.”
Langit di atas lembah tetap kelabu.
Tak ada yang bicara lagi.
Dan di tengah diam yang panjang itu, waktu seolah berhenti — menyimpan rahasia di balik setiap percikan air dan desah kabut.
Selanjutnya Episode 8 :
Kopi, Rokok, dan Doa di Ketinggian
Kabut pagi turun begitu rendah hingga seolah menyentuh ubun-ubun.
Langkah tim Mapala Arunika berat setelah malam yang dingin dan kompas yang seolah mempermainkan arah.
Di depan, Arga berhenti.
“Lihat itu,” katanya pelan.
Di antara sela kabut, tampak lembah yang tak ada di peta — tersembunyi di balik gugusan batu besar, seperti dunia yang sengaja disembunyikan.
Ada danau kecil di tengahnya, tenang seperti cermin.
Mereka menuruni jalur sempit dengan hati-hati. Tak ada suara selain desir angin dan detak jantung yang berkejaran dengan rasa ingin tahu.
Saat tiba di tepi danau, Mira berjongkok, mencelupkan jari ke air.
“Dingin sekali… seperti waktu yang nggak mau bergerak,” gumamnya.
Arga menatap permukaan air.
Ia melihat pantulan wajahnya — tapi di sampingnya, terlihat bayangan seorang perempuan, berdiri diam, tersenyum samar.
Ketika Arga menoleh, tak ada siapa pun di sana.
Namun dari dasar air, muncul gelembung kecil, satu-satu, seolah danau itu sedang bernapas.
Nara menatap jam tangannya.
“Ini aneh. Aku matikan tadi malam, tapi jarumnya tetap jalan… mundur.”
Mereka semua saling berpandangan.
Arga berjongkok, memandangi air lagi.
Kali ini ia melihat wajah lain — Raya, kakaknya — tersenyum dari bawah permukaan air, sebelum perlahan menghilang.
Angin berembus lirih, membawa aroma daun kering dan tanah basah.
Suara Tama memecah kesunyian:
“Kalian sadar nggak… dari tadi nggak ada suara burung sama sekali?”
Semua terdiam.
Kabut menebal.
Di tengah kesunyian itu, Arga menyentuh air dengan jemarinya.
Seketika terasa hangat — bukan dingin — seolah air itu menyimpan napas manusia.
Arga menarik tangannya cepat, tapi di telapak tangannya kini tergores samar bentuk huruf seperti coretan jari di pasir:
R A Y A
Mira berbisik, “Gunung ini nggak cuma punya jalur, Ga… dia juga punya ingatan.”
Langit di atas lembah tetap kelabu.
Tak ada yang bicara lagi.
Dan di tengah diam yang panjang itu, waktu seolah berhenti — menyimpan rahasia di balik setiap percikan air dan desah kabut.
Kopi, Rokok, dan Doa di Ketinggian

0 Komentar