Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur
Episode 5 Sebelumnya :Kabut Membawa Nama
Episode 6 : Hujan di Dalam Kompas
Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Udara tipis di jalur menuju pos empat membuat langkah tim Mapala Arunika melambat. Batu-batu licin, tanah becek, dan gemerisik ranting terdengar seperti gumam dari hutan yang sedang menahan napas.
“Kompasnya ngaco lagi, Ga,” ujar Nara, menatap jarum yang terus berputar tanpa arah.
Arga mengambilnya pelan, menyeka permukaannya yang basah oleh gerimis. Jarum itu berhenti sejenak, lalu bergeser ke arah barat laut — ke jalur yang tidak ada dalam peta.
Mira menatap langit, “Hujan datang dari arah yang salah.”
“Dan gunung mulai bicara,” tambah Tama, setengah berbisik.
Di tengah kesunyian itu, Arga berjalan sedikit di depan. Dalam matanya, di balik tirai hujan, terlihat sosok samar perempuan melintas di antara pohon-pohon pinus. Rambutnya panjang, bajunya seperti kain putih tipis yang menempel di tubuh karena air.
Arga tertegun — tapi saat ia berkedip, sosok itu lenyap.
“Ga, lo liat apa?” tanya Nara, menghampiri.
“Enggak. Cuma… mungkin bayangan.”
Namun di dada Arga, ada rasa yang tak bisa dijelaskan — seperti seseorang sedang memanggil dari dalam kabut.
Saat mereka berhenti untuk istirahat, hujan belum juga reda.
Mira mengeluarkan termos kecil, menuangkan teh hangat. “Aneh, ya. Kompas bisa salah arah begini?”
Arga menatap jarum yang bergetar pelan di telapak tangannya, lalu berkata lirih:
“Kadang… yang salah bukan kompasnya, tapi hati yang nggak tahu lagi mau pulang ke mana.”
Hujan makin deras. Kabut makin tebal.
Dan di antara suara deras air yang memukul dedaunan, samar-samar terdengar bisikan lembut —
“Arga…”
Jarum kompas berputar sekali lagi, lalu berhenti tepat di arah kabut itu.
Selanjutnya Episode 7 :
Lembah yang Menyimpan Waktu
Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Udara tipis di jalur menuju pos empat membuat langkah tim Mapala Arunika melambat. Batu-batu licin, tanah becek, dan gemerisik ranting terdengar seperti gumam dari hutan yang sedang menahan napas.
“Kompasnya ngaco lagi, Ga,” ujar Nara, menatap jarum yang terus berputar tanpa arah.
Arga mengambilnya pelan, menyeka permukaannya yang basah oleh gerimis. Jarum itu berhenti sejenak, lalu bergeser ke arah barat laut — ke jalur yang tidak ada dalam peta.
Mira menatap langit, “Hujan datang dari arah yang salah.”
“Dan gunung mulai bicara,” tambah Tama, setengah berbisik.
Di tengah kesunyian itu, Arga berjalan sedikit di depan. Dalam matanya, di balik tirai hujan, terlihat sosok samar perempuan melintas di antara pohon-pohon pinus. Rambutnya panjang, bajunya seperti kain putih tipis yang menempel di tubuh karena air.
Arga tertegun — tapi saat ia berkedip, sosok itu lenyap.
“Ga, lo liat apa?” tanya Nara, menghampiri.
“Enggak. Cuma… mungkin bayangan.”
Namun di dada Arga, ada rasa yang tak bisa dijelaskan — seperti seseorang sedang memanggil dari dalam kabut.
Saat mereka berhenti untuk istirahat, hujan belum juga reda.
Mira mengeluarkan termos kecil, menuangkan teh hangat. “Aneh, ya. Kompas bisa salah arah begini?”
Arga menatap jarum yang bergetar pelan di telapak tangannya, lalu berkata lirih:
“Kadang… yang salah bukan kompasnya, tapi hati yang nggak tahu lagi mau pulang ke mana.”
Hujan makin deras. Kabut makin tebal.
Dan di antara suara deras air yang memukul dedaunan, samar-samar terdengar bisikan lembut —
“Arga…”
Jarum kompas berputar sekali lagi, lalu berhenti tepat di arah kabut itu.
Lembah yang Menyimpan Waktu

0 Komentar