Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur
Episode 4 Sebelumnya :
Episode 5 : Kabut Membawa Nama
Pagi di Lembayung terasa lebih berat dari biasanya.
Kabut turun setebal kain kafan, menelan suara burung dan langkah manusia.
Tenda mereka basah seluruhnya, seperti habis menangis semalaman.
Arga keluar lebih dulu, menatap batu besar di depan kemah.
Jejak yang semalam ia lihat kini telah hilang — tapi di permukaan batu itu muncul goresan samar, seolah ditulis oleh ujung jari di atas embun.
Tulisan itu hanya satu kalimat:
“Gunung tak mau tidur karena namamu belum tenang.”
Arga terpaku.
Nara mendekat, membaca pelan.
“Namamu… siapa maksudnya, Gar?”
Arga tak menjawab. Ia justru mendekat, menyentuh tulisan itu — dan dinginnya seperti menyentuh air dari dalam nisan.
“Kak Raya,” bisiknya. “Gunung ini masih mengingat namanya.”
Tama yang sedari tadi diam mulai resah.
“Kita harus turun. Ini bukan hal yang bisa dijelaskan.”
Namun Mira, dengan pandangan tajamnya, justru berkata pelan:
“Kalau gunung mengingat, mungkin karena seseorang belum sempat berpamitan.”
Kalimat itu menggantung di udara, seperti mantra yang tak selesai diucap.
Angin tiba-tiba berputar di sekitar mereka, membuat kabut bergerak melingkar — dan dari sela kabut itu, samar terdengar nyanyian kecil.
Bukan gema dari lembah, melainkan suara yang datang dari dekat… sangat dekat.
“Arga… jangan biarkan aku tertidur sendirian…”
Suara itu lembut, namun membawa dingin yang menembus jaket dan kulit.
Arga menatap ke sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Tapi ia tahu, suara itu hanya bisa milik satu orang.
Kak Raya Samudra.
Nara menepuk bahunya, mencoba menenangkan.
“Mungkin cuma gema gunung, Gar.”
Arga menarik napas panjang.
“Kalau memang gunung bisa memanggil nama seseorang… berarti gunung ini sedang berduka.”
Langit perlahan terbuka, tapi kabut tak kunjung pergi.
Dari arah timur, seberkas sinar matahari memantul di bebatuan basah, membentuk bayangan seperti siluet seseorang berdiri di puncak bukit kecil.
Tak lama, bayangan itu hilang ditelan kabut lagi.
Mira mematung, lalu berbisik:
“Gunung ini seperti tahu siapa yang kita cari.”
Arga menatap batu yang bertuliskan pesan itu sekali lagi.
Tulisan embun itu mulai menghilang, tapi ia tahu — gunung sudah membuka percakapannya.
Dan malam nanti, saat kabut kembali turun, ia akan menjawab panggilan itu…
meski mungkin bukan dengan kata-kata.
Catatan :
Dalam pendakian spiritual, nama sering lebih berat dari tubuh.
Gunung Lembayung menyimpan nama yang belum selesai diucapkan —
dan dalam kabutnya, kita belajar bahwa yang belum tenang akan terus memanggil,
bukan untuk menakutkan, melainkan untuk diingat.
Gunung mulai berbicara malam ini.
Dan setiap kata yang ia ucapkan akan menuntun kita ke rahasia yang tak bisa ditulis di peta.
Selanjutnya Episode 6 :
Hujan di Dalam Kompas
Pagi di Lembayung terasa lebih berat dari biasanya.
Kabut turun setebal kain kafan, menelan suara burung dan langkah manusia.
Tenda mereka basah seluruhnya, seperti habis menangis semalaman.
Arga keluar lebih dulu, menatap batu besar di depan kemah.
Jejak yang semalam ia lihat kini telah hilang — tapi di permukaan batu itu muncul goresan samar, seolah ditulis oleh ujung jari di atas embun.
Tulisan itu hanya satu kalimat:
“Gunung tak mau tidur karena namamu belum tenang.”
Arga terpaku.
Nara mendekat, membaca pelan.
“Namamu… siapa maksudnya, Gar?”
Arga tak menjawab. Ia justru mendekat, menyentuh tulisan itu — dan dinginnya seperti menyentuh air dari dalam nisan.
“Kak Raya,” bisiknya. “Gunung ini masih mengingat namanya.”
Tama yang sedari tadi diam mulai resah.
“Kita harus turun. Ini bukan hal yang bisa dijelaskan.”
Namun Mira, dengan pandangan tajamnya, justru berkata pelan:
“Kalau gunung mengingat, mungkin karena seseorang belum sempat berpamitan.”
Kalimat itu menggantung di udara, seperti mantra yang tak selesai diucap.
Angin tiba-tiba berputar di sekitar mereka, membuat kabut bergerak melingkar — dan dari sela kabut itu, samar terdengar nyanyian kecil.
Bukan gema dari lembah, melainkan suara yang datang dari dekat… sangat dekat.
“Arga… jangan biarkan aku tertidur sendirian…”
Suara itu lembut, namun membawa dingin yang menembus jaket dan kulit.
Arga menatap ke sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Tapi ia tahu, suara itu hanya bisa milik satu orang.
Kak Raya Samudra.
Nara menepuk bahunya, mencoba menenangkan.
“Mungkin cuma gema gunung, Gar.”
Arga menarik napas panjang.
“Kalau memang gunung bisa memanggil nama seseorang… berarti gunung ini sedang berduka.”
Langit perlahan terbuka, tapi kabut tak kunjung pergi.
Dari arah timur, seberkas sinar matahari memantul di bebatuan basah, membentuk bayangan seperti siluet seseorang berdiri di puncak bukit kecil.
Tak lama, bayangan itu hilang ditelan kabut lagi.
Mira mematung, lalu berbisik:
“Gunung ini seperti tahu siapa yang kita cari.”
Arga menatap batu yang bertuliskan pesan itu sekali lagi.
Tulisan embun itu mulai menghilang, tapi ia tahu — gunung sudah membuka percakapannya.
Dan malam nanti, saat kabut kembali turun, ia akan menjawab panggilan itu…
meski mungkin bukan dengan kata-kata.
Catatan :
Dalam pendakian spiritual, nama sering lebih berat dari tubuh.
Gunung Lembayung menyimpan nama yang belum selesai diucapkan —
dan dalam kabutnya, kita belajar bahwa yang belum tenang akan terus memanggil,
bukan untuk menakutkan, melainkan untuk diingat.
Gunung mulai berbicara malam ini.
Dan setiap kata yang ia ucapkan akan menuntun kita ke rahasia yang tak bisa ditulis di peta.
Hujan di Dalam Kompas

0 Komentar