Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur

Episode 3 Sebelumnya :

EPISODE 4 : Jejak di Batu Basah

Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Jalur menuju Pos 4 menjadi licin dan sunyi, hanya sisa hujan yang menetes dari daun-daun pinus. Langkah mereka teratur, tapi setiap suara ranting patah terdengar seperti bisikan.

Arga berjalan paling depan, menuntun langkah dengan tongkat kayu. Pandangannya tertuju ke tanah, ke arah bebatuan yang basah.
Tiba-tiba ia berhenti.

“Ada jejak,” katanya pelan.
“Jejak siapa?” Nara menunduk ikut melihat.

Batu besar di depan mereka tampak jelas: ada bekas tapak sepatu — namun anehnya, hanya satu. Tidak berpasangan.
Dan yang lebih ganjil, bekas itu masih basah, seolah baru saja ditinggalkan seseorang.

Tama menyalakan senter, menyusuri sekitar.

“Mungkin pendaki lain,” gumamnya.
“Gunung ini ditutup, Tam,” sahut Mira pelan.
“Tidak ada yang boleh naik selain kita.”

Suara angin menggema dari lembah, membawa aroma tanah basah dan daun kering.
Arga menatap bekas jejak itu lama. Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya — rasa yang sama seperti ketika dulu ia mencari Raya di tengah kabut lima tahun lalu.

“Kak Raya… pernah pakai sepatu model ini,” bisiknya tanpa sadar.

Nara menatapnya, diam. Mira merapatkan jaket, matanya seperti menangkap sesuatu di sela kabut.

“Kau dengar?” katanya pelan.
“Apa?”
“Seseorang memanggil nama Arga.”

Mereka semua terdiam. Tidak ada angin, tidak ada suara. Tapi dari arah utara, samar terdengar seperti gema langkah — pelan, tapi pasti.

Arga memejamkan mata sesaat, mencoba mengingat suara itu. Lembut, tenang, dan dalam… seperti suara seseorang yang dulu sering menenangkan hatinya saat kecil.

“Itu… suara Kak Raya,” katanya gemetar.

Langit mulai menggelap. Hujan gerimis turun perlahan, dan kabut menelan jalur pendakian. Mereka memutuskan berhenti, mendirikan tenda di dekat batu besar tempat jejak itu ditemukan.

Malamnya, saat semua terlelap, Arga terbangun oleh suara gesekan kain di luar tenda. Ia menyingkap sedikit resleting.
Di luar sana, batu yang tadi mereka lihat… kini basah seluruhnya — dan di atasnya muncul dua jejak baru, berdampingan dengan jejak lama.


Catatan :
Dalam dunia pendakian, sering kali gunung menyimpan kisah yang tak tercatat di peta.
Gunung Lembayung bukan sekadar medan alam — ia seperti tubuh yang mengingat.
Jejak di batu basah bukan hanya tanda langkah, melainkan panggilan dari masa lalu yang belum selesai.
Apakah Arga benar-benar mendengar suara kakaknya, ataukah itu cara gunung berbicara?


Selanjutnya Episode 5 :