Bunga Rampai Puisi
Sebelumnya :
Puisi Asmara 2
Puisi Asmara 3
“DI ANTARA HUJAN DAN NAMA YANG TAK SELESAI”
“Setiap tetes hujan adalah huruf yang menulis ulang perasaanmu di dadaku.”
Kau tahu,
tak ada yang benar-benar selesai antara kita—
bahkan hujan pun masih mengulang caranya menyebut namamu di kaca jendela.
Aku memandang jauh,
melewati waktu yang pernah kita jalani bersama,
mencari makna dari jeda yang dulu kita sebut: berpisah sementara.
Kini,
setiap deras air dari langit
seakan menertawakan janji-janji yang basah di mataku.
Dan kau,
entah di mana,
mungkin sedang menatap hujan yang sama
dengan nama yang sama—
tapi tanpa aku.
“KETIKA PANGGILANMU TAK TERJAWAB”
“Cinta kadang tak butuh jawaban, hanya keberanian untuk tetap menunggu.”
Teleponmu berdering di sudut waktu
yang sudah lama kehilangan maknanya.
Aku nyalakan layar, tapi tak berani menyapa.
Di antara getar sinyal dan dengung sepi,
suaramu menunggu—
dan aku bersembunyi di balik gengsi yang belum sembuh.
Apakah kau tahu,
diamku bukan lupa,
melainkan cara paling sunyi untuk mencintai tanpa mengganggu?
Sebab terkadang,
panggilan yang tak terjawab
adalah doa yang tetap bergetar di antara dua hati
yang tak sempat saling menjelaskan.
“LANGIT YANG MENGULANG NAMA KITA”
“Rindu tak pernah mati, ia hanya berpindah tempat — dari mata, ke udara.”
Di layar kecil itu, wajahmu muncul tiba-tiba,
seperti takdir yang lupa meminta izin kepada waktu.
Suaramu pelan,
tapi cukup untuk membangunkan segala kenangan
yang kukira telah kubakar habis di malam-malam doa.
Kita tersenyum kaku,
mencari kata yang tak sempat diucap dulu.
Langit sore pun seakan ikut mendengarkan—
mengulang nama kita dengan nada yang samar,
seperti sebuah lagu yang lupa diakhiri.
Dan aku tahu,
cinta memang tak pernah pergi,
ia hanya belajar untuk diam di tempat yang lebih tenang.
Puisi Asmara 4

0 Komentar