Gunung yang Tak Mau Tidur - Episode 3 : Perempuan di Batas Awan - Karya R. Abim

  Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur

Episode 2 Sebelumnya :

EPISODE 3 : Perempuan di Batas Awan

Kabut turun lebih cepat dari perkiraan.
Jam menunjukkan pukul 15.07 ketika tim Arunika tiba di Pos 3, dataran batu yang terbuka menghadap lembah.
Angin berhembus lembab, menebar aroma tanah dan dedaunan basah.

“Kita istirahat di sini,”
ujar Tama, meletakkan ranselnya.
“Kalau lanjut sekarang, bisa nyasar. Kabut terlalu tebal.”

Mira duduk di akar pohon besar, menulis catatan lapangan di buku log. Nara menyalakan kompor portable, menyiapkan air panas.
Sementara Arga… menatap jauh ke arah batu besar di tepi jurang.

Di sana — di batas awan yang perlahan menelan punggungan gunung —
duduk seorang perempuan berpakaian putih, rambutnya panjang, menunduk pelan seperti sedang memandangi lembah.

Tidak menakutkan.
Justru teduh.
Wajahnya samar, tapi anehnya terasa akrab, seperti bayangan dari mimpi yang dulu sering datang saat Arga kecil.

“Kak…”
Bisikan itu lepas tanpa sadar dari bibirnya.

Mira menoleh.

“Kau bilang apa?”
“Ah, nggak. Cuma bicara sendiri.”

Arga melangkah pelan mendekati batu besar itu. Tapi saat kabut tersibak oleh angin, perempuan itu lenyap.
Hanya ada selembar daun yang menempel di batu — bentuknya menyerupai sayap kecil.

Ia menatap daun itu lama, lalu menyimpannya di dalam buku log Mira tanpa berkata apa-apa.

Malamnya, saat mereka makan mi instan di tenda, Nara tiba-tiba bertanya,

“Tadi kau lihat sesuatu, Ga?”
Arga diam.
“Ada apa sih di batu besar itu?”
Arga menatap ke luar tenda.
Kabut menari di antara pepohonan.
“Cuma seseorang… yang sepertinya sudah lama menunggu,” jawabnya pelan.

Angin kembali berembus, membuat dinding tenda bergetar.
Dan di sela desirnya, samar-samar terdengar suara perempuan —
menyanyikan lagu pendaki yang dulu sering dinyanyikan oleh Kak Raya, kakak Arga yang hilang lima tahun lalu di gunung yang sama.


🜂 Catatan Redaksi Media Pena Bersayap

Gunung selalu punya cara berbicara — lewat angin, kabut, atau sosok yang datang di antara dua dunia.
Bagi sebagian orang, itu hanya halusinasi akibat lelah.
Tapi bagi jiwa yang membawa luka, bisa jadi itu cara semesta mempertemukan yang hidup dengan yang tertinggal.

“Gunung tak menakuti, ia hanya mengingatkan —
bahwa rindu kadang lebih berat dari batu yang kita daki.”


Selanjutnya Episode 4 :
Jejak di Batu Basah

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising