Cerber Mistis - Gunung Yang Tak Mau Tidur
Episode 1 Sebelumnya :
EPISODE 2 : Langkah Pertama di Jalur Sunyi
Subuh itu langit belum sepenuhnya terang.
Kabut turun perlahan, menyelimuti kampus seperti selendang tipis milik masa lalu. Empat orang berdiri di halaman sekretariat Mapala Arunika: Arga, Nara, Tama, dan Mira — satu-satunya perempuan di tim itu.
Di atas meja, peta besar terbentang. Garis merah menandai jalur pendakian menuju puncak Gunung Lembayung — jalur timur yang dulu ditutup.
Namun justru jalur itulah yang mereka pilih.
“Jalur sunyi ini belum pernah disentuh lagi sejak tragedi lima tahun lalu,”
ujar Nara, sambil menyalakan kompas di tangannya.
“Mungkin kita bukan cuma mendaki, tapi menantang sesuatu yang tidak ingin ditemukan.”
Arga hanya tersenyum tipis. Dalam ranselnya, ia menyimpan surat kakaknya. Setiap huruf dalam surat itu seperti bara kecil yang menuntunnya kembali ke tempat asal luka.
Ketika mobil bak terbuka mulai bergerak meninggalkan kota, mereka bernyanyi bersama lagu-lagu lama pendaki. Tapi begitu kabut pertama menyentuh jendela, suasana seketika hening.
Hutan di kaki gunung itu tampak asing — sepi, tapi seperti mengamati.
Langkah pertama mereka menapaki jalur sunyi dimulai pada pukul 07.42.
Suara ranting patah, embun menetes dari daun pakis, dan udara dingin memotong napas.
Namun di antara desir angin itu, Arga mendengar sesuatu — suara halus, lembut, nyaris seperti doa yang patah.
“Arga…”
Ia menoleh. Tak ada siapa pun di belakang.
Hanya kabut, bergerak pelan seperti nafas dari dalam bumi.
Mira menatapnya.
“Kau dengar sesuatu?”
Arga menggeleng pelan, tapi matanya gelisah.
“Mungkin cuma angin.”
Namun dalam hatinya ia tahu — bukan angin yang memanggilnya.
Gunung Lembayung baru saja menyebut namanya dengan cara yang hanya dimengerti oleh mereka yang dipanggil untuk kembali.
Subuh itu langit belum sepenuhnya terang.
Kabut turun perlahan, menyelimuti kampus seperti selendang tipis milik masa lalu. Empat orang berdiri di halaman sekretariat Mapala Arunika: Arga, Nara, Tama, dan Mira — satu-satunya perempuan di tim itu.
Di atas meja, peta besar terbentang. Garis merah menandai jalur pendakian menuju puncak Gunung Lembayung — jalur timur yang dulu ditutup.
Namun justru jalur itulah yang mereka pilih.
“Jalur sunyi ini belum pernah disentuh lagi sejak tragedi lima tahun lalu,”
ujar Nara, sambil menyalakan kompas di tangannya.
“Mungkin kita bukan cuma mendaki, tapi menantang sesuatu yang tidak ingin ditemukan.”
Arga hanya tersenyum tipis. Dalam ranselnya, ia menyimpan surat kakaknya. Setiap huruf dalam surat itu seperti bara kecil yang menuntunnya kembali ke tempat asal luka.
Ketika mobil bak terbuka mulai bergerak meninggalkan kota, mereka bernyanyi bersama lagu-lagu lama pendaki. Tapi begitu kabut pertama menyentuh jendela, suasana seketika hening.
Hutan di kaki gunung itu tampak asing — sepi, tapi seperti mengamati.
Langkah pertama mereka menapaki jalur sunyi dimulai pada pukul 07.42.
Suara ranting patah, embun menetes dari daun pakis, dan udara dingin memotong napas.
Namun di antara desir angin itu, Arga mendengar sesuatu — suara halus, lembut, nyaris seperti doa yang patah.
“Arga…”
Ia menoleh. Tak ada siapa pun di belakang.
Hanya kabut, bergerak pelan seperti nafas dari dalam bumi.
Mira menatapnya.
“Kau dengar sesuatu?”
Arga menggeleng pelan, tapi matanya gelisah.
“Mungkin cuma angin.”
Namun dalam hatinya ia tahu — bukan angin yang memanggilnya.
Gunung Lembayung baru saja menyebut namanya dengan cara yang hanya dimengerti oleh mereka yang dipanggil untuk kembali.
🜂 Catatan :
Setiap perjalanan besar dimulai dengan satu langkah, tapi di Gunung Lembayung, langkah pertama bisa jadi adalah undangan dari dunia yang tak kasat mata.
Pena Bersayap mengajak pembaca menapaki kisah ini bukan sekadar sebagai pendaki, tapi sebagai manusia yang tengah mencari makna di antara kabut dan kehilangan.
“Kadang gunung memanggil bukan karena ingin didaki —
tapi karena ada jiwa yang tertinggal di tubuhnya.”
Selanjutnya Episode 3 :
Perempuan di Batas Awan
Setiap perjalanan besar dimulai dengan satu langkah, tapi di Gunung Lembayung, langkah pertama bisa jadi adalah undangan dari dunia yang tak kasat mata.
Pena Bersayap mengajak pembaca menapaki kisah ini bukan sekadar sebagai pendaki, tapi sebagai manusia yang tengah mencari makna di antara kabut dan kehilangan.
“Kadang gunung memanggil bukan karena ingin didaki —
tapi karena ada jiwa yang tertinggal di tubuhnya.”
Perempuan di Batas Awan

0 Komentar