Sebelumnya
Langit sore di kampus Fakultas Sosial itu berwarna kelabu, seolah menyimpan rahasia. Di papan pengumuman organisasi pecinta alam, selebaran baru tertempel dengan tinta yang mulai luntur:
“Ekspedisi Gunung Lembayung – Jalur Timur – Pendakian Penutupan Tahun.”
Arga Samudra, mahasiswa tingkat akhir sekaligus anggota Mapala “Arunika”, memandangi selebaran itu lama. Gunung Lembayung — nama yang dulu selalu disebut dalam doa dan luka keluarganya.
Lima tahun lalu, kakaknya, Arya, hilang di puncak gunung itu bersama dua rekan timnya.
Pencarian resmi dihentikan, dan Lembayung dinyatakan gunung tertutup.
Namun hari itu, sebuah amplop coklat ditemukan di ruang sekretariat Mapala. Di dalamnya, ada secarik kertas bertuliskan:
“Jangan naik lewat jalur timur.
Di sana, malam tidak pernah tidur.”
— Arya S.
Arga terdiam. Surat itu bertanggal seminggu sebelum tragedi lima tahun lalu.
Tulisan tangan itu… milik kakaknya.
Ketika malam turun, Arga duduk di asrama, menatap surat itu di bawah cahaya lampu neon yang bergetar.
Satu kalimat terlintas di benaknya:
“Mungkin gunung itu belum selesai memanggil namaku.“
Dan begitu keputusan itu dibuat, tak ada yang bisa menghentikan langkahnya — ekspedisi menuju Lembayung pun dimulai.
Tapi di balik awan, gunung itu seperti tersenyum samar… seolah tahu bahwa yang mereka daki bukan hanya puncak, tapi masa lalu yang belum selesai.
🜂 Catatan Penulis
Cerita berseri ini membuka babak baru perjalanan sastra — kisah antara cinta, kehilangan, dan rahasia alam yang tak mau dilupakan.
Gunung Lembayung bukan sekadar medan pendakian; ia adalah cermin jiwa manusia yang berani menatap ke dalam gelapnya sendiri.
“Beberapa puncak tak untuk ditaklukkan,
tapi untuk didengar bisiknya —
sebelum kau ikut hilang di dalamnya.”
Selanjutnya Episode 2:
Langkah Pertama di Jalur Sunyi

0 Komentar