Jejak Rindu di Balik Layar - Episode 8 : Suara dari Dalam Luka - Karya Rio NF

 Episode 7 Sebelumnya



Episode 8 : Suara dari Dalam Luka

Lampu-lampu redup di panggung kecil itu membuat suasana terasa intim. Dinding bata ekspos, meja-meja kayu dengan noda kopi yang tak sempat dibersihkan, dan aroma tembakau kretek menyatu dengan semilir malam kota Surabaya.
Panggung itu bukan milik penyair besar — hanya ruang kecil di sudut Darmo, tapi malam itu seolah menjadi saksi dari luka yang disiarkan lewat kata.

Nama Raka terpampang di spanduk sederhana:
“Malam Puisi: Luka yang Tak Pernah Usai.”
Entah siapa yang memilih judul itu, tapi rasanya seperti cermin bagi isi dadanya.

Di barisan belakang, Aurora duduk dengan topi dan masker, menyamarkan diri. Ia tak tahu kenapa datang — mungkin hanya ingin memastikan suara itu benar-benar nyata, bukan gema masa lalu yang terus menghantui pikirannya.

Sebelum acara dimulai, seorang pelayan perempuan muda berkeliling membawa nampan kopi. Tangannya gemetar, suaranya nyaris tak terdengar ketika berkata pelan,
“Permisi, Mbak, mau pesan apa?”
Aurora menatapnya sekilas, lalu mengangguk tanpa kata. Pelayan itu tersenyum sopan, senyum yang tampak terbiasa menelan letih tanpa diperhatikan.
Di matanya, Aurora melihat dirinya sendiri — perempuan yang menahan sesuatu agar tetap bisa berdiri tegak.

Ketika Raka naik ke panggung, tepuk tangan bergema. Ia tampak tenang, tapi di balik matanya ada sejenis sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh orang yang pernah kehilangan.
Ia membuka lembar puisinya — kertas lusuh yang mungkin sudah berkali-kali diremas dan diluruskan kembali.

“Orang-orang memuji puisiku,
padahal yang mereka dengar hanyalah jeritan yang kubungkus dengan kata.
Mereka bilang indah,
padahal setiap baitnya lahir dari kehilangan yang belum kuterima.”

Ruangan mendadak hening.
Aurora menatap Raka dari balik bayang lampu. Wajah itu masih sama: hangat, tapi kini dikeraskan oleh waktu dan duka.
Ia merasakan seolah setiap kata itu ditujukan padanya — seperti bisikan yang menembus ribuan jarak dan ratusan penonton.

Raka menutup bacaannya perlahan:

“Aku tidak menulis untuk dikenang,
aku menulis agar rasa sakitku tidak gila sendirian.”

Tepuk tangan pecah, tapi Raka hanya menunduk.
Bagi penonton, ia penyair yang menyentuh hati.
Bagi Aurora, ia lelaki yang masih menanggung beban cinta yang tak selesai.
Dan bagi pelayan kedai yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, ia hanyalah sosok lain yang mencoba bertahan hidup lewat kata, seperti dirinya yang bertahan lewat senyum palsu di balik kelelahan.

Saat acara usai, Aurora keluar perlahan.
Dari arah trotoar, seorang pengamen tua menyanyikan lagu cinta lawas dengan gitar yang senarnya tinggal tiga. Suaranya serak tapi tulus.
Orang-orang berlalu tanpa peduli — hanya Aurora yang menoleh sebentar dan melemparkan uang receh ke topinya.

Dalam langkah gontai menuju parkiran, ia sadar:
Cinta, luka, dan kemiskinan batin — semuanya kini tampak seperti potret kecil negeri ini.


Dan malam itu, di bawah langit Surabaya yang buram, Raka dan Aurora sama-sama menatap hidup dari jendela yang berbeda, tapi dengan luka yang sama.


Selanjutnya Episode 9 :
Surat yang Tak Terkirim

Posting Komentar

0 Komentar