Jejak Rindu di Balik Layar - Episode 7 : Bayangan di Balik Jendela - Karya Rio NF

Episode 6 Sebelumnya :


Episode 7 : Bayangan di Balik Jendela

Kedai kopi di bilangan Darmo itu tak terlalu ramai sore itu. Hujan baru saja turun, menitik pelan di kaca jendela, menimbulkan bunyi lirih seperti bisikan yang datang dari masa lalu. Aroma kopi arabika berpadu dengan bau tanah basah, menghadirkan kenangan yang enggan pergi.

Aurora duduk di pojok dekat jendela. Di hadapannya, secangkir latte sudah mendingin, dibiarkan begitu saja. Ia membuka laptop, berniat menyelesaikan laporan kerja yang sempat tertunda. Tapi entah bagaimana, jari-jarinya malah menelusuri laman YouTube, dan menemukan kanal yang dulu sering ia dengar diam-diam: APJ – Abim Penyair Jalanan.

Judul video itu sederhana — “Untuk yang Pernah Menunggu di Ujung Hujan.”
Aurora menatap layar beberapa detik. Lalu menekan tombol play.

Suara Raka muncul. Lembut, sedikit serak, dan menyelinap ke ruang-ruang kosong di dadanya.

“Aku pernah menunggumu di ujung hujan,
di tempat waktu berhenti, tapi kenangan berjalan.
Kau bilang, cinta tak perlu dijelaskan —
lalu pergi tanpa alasan.”

Aurora tertegun. Setiap kata terasa seperti pisau yang digoreskan perlahan pada hati yang sudah rapuh. Ia mencoba menahan air matanya, tapi suaranya sendiri pecah di dada.

“Raka…” bisiknya nyaris tak terdengar.

Di luar, hujan kembali mengguyur kaca. Dan di pantulan jendela itu, Aurora melihat bayangan dirinya — mata yang lelah, hati yang tak utuh. Tapi di sela pantulan itu, ia merasa seolah ada sosok Raka berdiri di seberang jalan, menatapnya dalam diam.

Ia tersenyum getir. “Kau masih di sini, ya… di sela hujan dan kata.”

Aurora menutup laptopnya perlahan. Lalu membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Tangannya bergetar saat mulai menulis.

“Kita tak pernah benar-benar pergi,
hanya berpindah tempat untuk menunggu saling mengerti.”

Namun, tulisannya berhenti di sana. Ia tak sanggup melanjutkan. Seperti puisinya yang tak selesai, hatinya pun belum berani menuntaskan.


Ia tahu — cinta yang telah dilepaskan tak bisa kembali sama. Tapi sore itu, di balik jendela kedai Darmo, Aurora akhirnya menyadari: yang menyakitkan bukan perpisahan, melainkan kesadaran bahwa keikhlasan pun punya luka yang tak sembuh oleh waktu.


Selanjutnya Episode 8 :

Posting Komentar

0 Komentar