Episode 5 Sebelumnya
Hujan Tak Lagi Menyebut Namamu
Setelah hujan,
kota memantulkan wajah langit yang lelah.
Di balik jendela yang berembun,
seseorang menulis — bukan untuk dikenang,
tapi untuk menyembuhkan.
Episode 6 : Puisi Yang Tak Selesai
Malam berganti dini hari.
Jalanan Surabaya masih basah, menampung sisa hujan dan lampu-lampu yang bergoyang di permukaannya.
Di sebuah kamar kecil di kawasan Kertajaya, Raka duduk di depan meja kayu yang sudah mulai kusam.
Secangkir kopi hitam mendingin di sisinya, sementara jari-jarinya berhenti di atas kertas yang masih kosong.
Ia sudah berjam-jam duduk di sana.
Mencoba menulis puisi pertama sejak pertemuannya dengan Aurora di bawah hujan semalam.
Namun setiap kali pena menari, nama itu selalu ikut menetes di ujung kalimat.
“Tidak, bukan tentang dia,” gumamnya pelan.
“Ini tentang diriku sendiri… tentang luka yang belajar berjalan tanpa tongkat kenangan.”
Tapi kata-kata tak bisa berbohong.
Ia menulis:
“Kau datang di antara bunyi hujan yang letih, membawa sisa cahaya yang dulu kupanggil rumah.”
Raka berhenti.
Tangannya gemetar. Ia tahu, puisi itu bukan miliknya — melainkan bayangan Aurora yang menulis lewat dirinya.
Dari luar jendela terdengar suara hujan kecil yang tersisa di talang.
Bunyi itu seperti mengetuk hatinya, menyuruhnya jujur, menyuruhnya pasrah.
Ia memejamkan mata.
Bayangan Aurora muncul lagi — wajah yang tenang, suara lembut yang menolak diulang.
Bukan untuk menyiksa, tapi untuk menegaskan bahwa cinta sejati tidak selalu butuh kelanjutan.
“Cinta itu bukan pertanyaan,” bisiknya ke udara, “melainkan kalimat yang tak perlu titik.”
Raka tersenyum getir.
Ia menyesap kopi yang sudah dingin, lalu menulis lagi, lebih perlahan:
“Malam ini aku menulis bukan untuk memanggilmu,
tapi untuk memahami mengapa kepergianmu tak juga terasa pergi.”
Kalimat itu berhenti di tengah jalan.
Kertasnya setengah basah — entah karena embun, entah karena air mata yang tak sempat ia sadari.
Ia menatap langit di luar jendela.
Surabaya masih setia menyalakan lampu-lampu di jalanan yang sepi.
Kota itu baginya seperti cermin raksasa: memantulkan wajah seseorang yang sedang berusaha berdamai dengan masa lalunya sendiri.
Raka menunduk lagi ke kertas itu. Menulis kalimat terakhir yang tak pernah selesai:
“Aku mencintaimu… tapi bukan untuk kembali.”
Ia menatap tulisan itu lama sekali, lalu tersenyum.
Mungkin memang begitu cara penyair sembuh — bukan dengan melupakan, tapi dengan menulis sampai luka berubah jadi bahasa.
Di antara huruf-huruf yang basah,
ia menemukan dirinya sendiri.
Bukan lagi lelaki yang menunggu,
tapi lelaki yang paham:
beberapa cinta memang ditakdirkan
hanya menjadi puisi yang tak selesai.

0 Komentar