Cerber : Jejak Rindu di Balik Layar
Episode 5 : Hujan tak Lagi Menyebut Namamu
Hujan turun tanpa salam, menetes di antara nama-nama yang pernah kita jaga.
Di trotoar basah kota ini, ada langkah yang kembali, tapi tak mencari.
Langit Surabaya malam itu seperti menyimpan rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan.
Hujan turun perlahan, membasuh jalanan sekitar Tugu Pahlawan yang berkilau oleh cahaya lampu kendaraan.
Di bawah payung biru tua, seorang perempuan berdiri diam — wajahnya tertunduk, dan matanya seperti sedang membaca masa lalu yang tak lagi utuh. Namanya Aurora.
Dan di seberang jalan, Raka baru saja melangkah keluar dari halte, membawa tubuh letih dan hati yang sudah terlalu lama menghindari kenangan.
Langkah mereka akhirnya bertemu di bawah langit yang sama.
Bukan karena takdir, mungkin hanya kebetulan yang disusun oleh hujan.
Raka menatap wajah itu lama — wajah yang pernah ia peluk dalam malam-malam yang kini hanya jadi serpihan mimpi.
Tangannya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena waktu yang tiba-tiba kembali tanpa izin.
Aurora…?”
Suaranya nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat perempuan itu menoleh.
Aurora tersenyum samar. “Kau masih mengenali suaraku?, Hujan ini bahkan nyaris tak mengenal langkahku lagi.”
Raka mencoba tersenyum, namun suaranya pecah. “Mungkin karena hujan di kota ini selalu mengingat kita. Setiap rintiknya tahu, ada dua nama yang pernah bersembunyi di bawah satu payung.”
Aurora menatap tanah basah. “Tapi payung itu sudah rusak, Raka. Dan tak ada toko yang bisa memperbaikinya.”
Di dalam dirinya, Raka mendengar gema lama — suara tawa mereka di bawah hujan yang sama, di tahun-tahun ketika cinta masih muda dan penuh keyakinan.
Ia masih ingat bagaimana Aurora menatap langit sambil berkata, “Suatu hari, hujan akan jadi saksi paling jujur, ketika cinta tak sempat berpamitan.”
Dan kini, kalimat itu menjadi kenyataan yang menggigit.
“Aku pikir aku sudah sembuh,” bisik Raka, lebih kepada dirinya sendiri.
“Tapi malam ini… suara hujan membangunkan luka yang kukira sudah tidur.”
Aurora menatapnya lembut.
“Jangan salahkan hujan, Raka. Ia hanya mengingatkan, bukan mengembalikan.”
Raka tertawa lirih, menatap wajah yang dulu ia hafal setiap garisnya.
“Kau masih sama. Kalimatmu selalu jadi pisau yang indah.”
Aurora menghela napas panjang.
“Dan kau juga masih sama. Selalu datang setelah semuanya usai.”
Hening panjang menyelimuti mereka.
Di sela suara hujan, yang terdengar hanyalah detak jantung yang enggan berdamai dengan masa lalu.
Raka memandang Aurora — bukan seperti dulu, tapi seperti seseorang yang sedang belajar melepaskan sambil mencintai.
Aurora akhirnya bicara lagi, pelan dan tenang:
“Aku datang bukan untuk membuka luka. Aku hanya ingin memastikan, kau sudah bisa berjalan tanpa menoleh ke belakang.”
“Aku berjalan,” jawab Raka, “tapi setiap langkah masih membawa bayanganmu.”
Aurora menatapnya dengan tatapan penuh cahaya yang aneh — hangat tapi menjauh.
“Bayangan bukan untuk diikuti, Raka.
Ia hanya menandakan masih ada cahaya di belakangmu.
Pergilah ke arah yang terang.
Jangan menunggu aku di tikungan yang sama.”
Hujan tiba-tiba menebal.
Aurora menurunkan payungnya, membiarkan rambut dan wajahnya basah oleh air yang jatuh seperti doa yang tak sampai.
Raka ingin memeluknya, tapi tahu bahwa pelukan itu tak lagi memiliki arti selain nostalgia.
“Aurora…” suaranya bergetar, “jika hujan ini berhenti, apakah kau masih akan tetap di sini?”
“Tidak.”
Aurora menatap langit.
“Karena setelah hujan reda, nama kita akan menguap bersama kabut.”
“Lalu… bagaimana dengan cinta itu?” tanya Raka lirih.
“Cinta tidak mati, Raka. Ia hanya berpindah tempat — dari genggaman menjadi kenangan.”
Raka terdiam.
Ia menatap jalan yang basah, lampu kendaraan yang berpendar seperti cahaya masa lalu.
Dan dalam dirinya, ia tahu: cinta ini tak akan benar-benar hilang, tapi juga tak akan pernah kembali dalam wujud yang sama.
Aurora melangkah pergi, menyeberangi jalan yang lengang.
Payung biru tua itu kini tergenggam di tangannya yang dingin, melambai sebentar sebelum lenyap di balik kabut dan hujan yang mulai reda.
Raka menatap ke arah kepergiannya lama sekali.
Ia tidak menangis. Tidak juga tersenyum.
Ia hanya berdiri, menatap ke langit Surabaya yang kini bening dan kosong — seperti dada yang akhirnya belajar ikhlas.
“Kalau begitu…” gumamnya,
“aku akan belajar mencintaimu tanpa menyebut namamu lagi.”
Hujan berhenti, tapi ingatan masih menetes. Kota menyalakan lampu-lampu harapan,
sementara dua nama perlahan larut di antara suara lalu lintas dan waktu yang terus berjalan. Dan malam itu, Surabaya kembali tenang — tanpa harus menyebut namamu lagi.
Selanjutnya Episode 6:
Puisi Yang Tak Selesai

0 Komentar