Jejak Rindu di Balik Layar - Episode 4 : Sepotong Senja di Dalam Mata - Karya Rio NF

Cerber : Jejak Rindu di Balik Layar 

 Episode 3 Sebelumnya

Episode 4 : Sepotong Senja di Dalam Mata

Senja menggantung di jendela kafe.

Cahaya oranye menempel di permukaan meja, di cangkir-cangkir yang sudah lama dingin.

Raka menatapnya seolah menatap wajah yang pernah ia cintai, tapi kini hanya tersisa dalam bentuk bayangan.

Aurora datang terlambat. Hujan belum turun, tapi langit sudah seperti menahan tangis yang lama.

Aurora: “Kau masih memesan kopi hitam tanpa gula. Sama seperti dulu.”

Raka: “Karena rasa pahitnya tak pernah bohong.”

Aurora menghela napas, matanya mencari sesuatu di wajah Raka yang mungkin sudah hilang.

Aurora: “Kadang aku berpikir… kita ini hanya dua orang yang menolak berdamai dengan masa lalu.”

Raka: “Atau dua orang yang terlalu takut jika berdamai berarti melupakan.”

Mereka terdiam.

Di luar, langit mulai meneteskan airnya.

Pelayan menyalakan lampu, menambah bayangan di wajah mereka berdua.

Raka membuka suaranya pelan, suaranya seperti sisa dari mimpi yang tak selesai

Ada sepotong senja di dalam matamu,

yang dulu kutitipkan di tepi pelukan,

tapi kini hanya tinggal warna yang pudar,

seperti janji yang tak lagi punya alamat pulang.”

Aurora memejamkan mata.

Ia mengingat sesuatu—sebuah senja di tepi pantai Kenjeran, saat Raka menggambar namanya di pasir dengan ujung ranting, lalu ombak menghapusnya begitu cepat.

Aurora: “Kau masih menulis puisi seperti itu, ya?”

Raka: “Bukan menulis, hanya menyebut nama yang tak pernah selesai.”

Ia tersenyum, getir, dan senyum itu patah di tengah jalan.

Aurora menatap ke arah jendela. Hujan semakin deras.

Di kaca, bayangan wajah mereka menyatu sejenak—lalu terpecah lagi oleh tetesan air.

Kita ini seperti dua hujan yang jatuh di jendela yang sama,” bisik Aurora.

“Saling bertemu, tapi hanya sebentar sebelum mengalir pergi.”

Raka menunduk, menutup buku catatannya.

“Aku tak tahu harus memintamu kembali… atau melepaskanmu dengan doa yang lebih pelan.”

Aurora berdiri. Suaranya gemetar:

“Kalau doa itu tak lagi untukku, Raka…

biarlah hujan yang menjawab semuanya.”

Ia pergi meninggalkan kursi, meninggalkan aroma kopi dan luka yang belum reda.

Raka menatap kursi itu lama.

Di atas meja, setetes air jatuh dari ujung rambutnya ke permukaan kayu, membentuk lingkaran kecil — seperti bekas pelukan yang pernah ada.

“Cinta itu, kadang tak mati,” gumamnya,

“ia hanya memilih menjadi senja di dalam mata seseorang yang tak lagi menatap kita.”

Selanjutnya Episode 5 :
Hujan tak Lagi Menyebut Namamu


Posting Komentar

0 Komentar