Jejak Rindu di Balik Layar - Episode 3 : Hujan di Meja Sebelah - Karya Rio NF

Cerber : Jejak Rindu di Balik Layar 

Episode 2 Sebelumnya
Tatapan dari Balik Bayangan


Episode 3 : Hujan di Meja Sebelah

Hujan turun perlahan, seperti membasuh debu kenangan di kaca kafe itu.

Raka sudah datang lebih dulu, duduk di meja pojok — tempat yang sama, di mana dulu ia dan Aurora sering berbagi diam, berbagi tawa, dan berbagi luka tanpa kata.

Di luar, air menetes dari daun-daun pohon trembesi. Di dalam, aroma kopi dan kayu basah bercampur dengan waktu yang melambat.

Aurora datang — mantel abu-abu, rambut sedikit basah, langkahnya ragu tapi tegas.
Raka menatap, kali ini tidak untuk menyalahkan masa lalu, tapi untuk mendengar — dan mungkin, memaafkan.

“Kau masih suka datang ke sini, Raka? Tempat ini seperti… tidak pernah berubah.”

“Yang berubah cuma harga kopinya, Aur… tapi rasa sepi di meja ini tetap sama.”

Hening sejenak. Di meja sebelah, sepasang muda-mudi tertawa keras.
Aurora melirik, seolah cemburu pada masa yang tak lagi ia miliki.

Aurora: “Aku ingin waktu bisa seperti hujan… turun, reda, lalu memberi kesempatan untuk tumbuh.”

Raka: “Sayangnya, kita cuma bisa jadi tanah yang menunggu… menunggu hujan yang tak tahu kapan datang.”

Ia menatap Aurora.
Aurora menunduk. Lalu dari bibirnya keluar lirih seperti doa — atau penyesalan.

“Raka, kau tahu… kadang aku masih menulis namamu di sisa embun jendela, lalu segera kuhapus, takut hujan tahu aku belum bisa benar-benar melupakan.”

Raka menghela napas.

“Dan aku, Aurora… masih menulis doamu di sisa kopi yang dingin. Kadang pahitnya mengingatkanku bahwa kenangan tak selalu harus disesali.”

Suara hujan semakin deras.
Petir menyambar jauh di arah timur.
Aurora menatap keluar, lalu berkata dengan suara serak:

Aurora: “Andai dulu kita berani menunggu sebentar lagi, mungkin cerita ini tak berakhir di meja yang berbeda…”

Raka tersenyum getir. “Cinta kita seperti hujan di meja sebelah, Aur… dekat, terdengar, tapi tak pernah benar-benar menyentuh.”


Hujan belum berhenti.
Tapi di antara derasnya, ada dua hati yang mulai berdamai dengan masa lalu — tanpa janji, tanpa tuntutan, hanya dengan pengakuan kecil: bahwa keduanya pernah saling kehilangan, dan itu cukup.


Selanjutnya  Episode 4 :














Posting Komentar

0 Komentar