Jejak Rindu di Balik Layar - Episode 2 : Tatapan dari Balik Bayangan - Oleh Rio NF

Cerber : Jejak Rindu di Balik Layar 

Baca Episode Sebelumnya
Episode 1 : Jejak Rindu di Balik Layar


Episode 2 : Tatapan dari Balik Bayangan

Kafe itu belum ramai. Hanya bunyi denting sendok dan aroma kopi yang mengisi ruang sore.

Raka datang lebih dulu, duduk di sudut dekat jendela. Ia menatap keluar — berharap, sekaligus takut melihat wajah yang sejak lama hanya hidup di ingatan.

Aurora datang perlahan, membawa senyum yang terasa asing tapi hangat.

Raka berdiri, canggung, namun matanya tak bisa berbohong.

Mereka saling menatap; seperti dua puisi yang sempat robek dan kini mencoba dibaca ulang.

Aurora datang perlahan, membawa senyum yang terasa asing tapi hangat.

Raka berdiri, canggung, namun matanya tak bisa berbohong.

Mereka saling menatap; seperti dua puisi yang sempat robek dan kini mencoba dibaca ulang.

Sudah lama,” kata Aurora pelan.

Ya, terlalu lama,” jawab Raka, menunduk.

Sunyi menggantung di antara mereka. Lalu Aurora tertawa kecil, mencoba mencairkan udara yang kaku.

“Kau masih suka kopi hitam tanpa gula?”

Raka tersenyum. “Kebiasaan buruk yang tak bisa kutinggalkan. Sama seperti kenangan.”

Aurora menatap cangkirnya — kopi latte, seperti dulu.

“Kenangan tak seburuk itu, Rak,” ucapnya. “Hanya saja, kadang ia datang tanpa diundang.”

Raka menatap matanya lama.

Lalu ia berkata pelan — seperti menulis puisi tanpa pena:

“Ada yang tak pernah selesai,

meski waktu telah menggulungnya jauh.

Ada nama yang masih tinggal,

di antara diam dan doa yang kutulis tiap malam.”

Aurora menelan ludah, senyum di bibirnya perlahan pudar.

“Jangan begitu, Rak,” katanya, “aku takut kembali jatuh pada luka yang sama.”

Raka tersenyum getir:

“Cinta tak pernah salah, hanya waktu yang berkhianat.”

Hujan tiba-tiba turun di luar.

Rintiknya menambah keheningan.

Aurora menatap ke jendela, sementara Raka memandangi wajahnya yang terpantul di kaca — bayangan masa lalu yang kini duduk di hadapannya.

“Kalau boleh,” kata Aurora lirih, “aku ingin kita hanya minum kopi sore ini, tanpa membicarakan masa lalu.”

Raka mengangguk. Tapi di dalam hatinya, kalimat lain tumbuh diam-diam:

“Sore ini, biarlah hujan bicara.

Sebab kata-kata kita terlalu rapuh

untuk menahan rindu yang tak lagi punya rumah.”

Mereka pun terdiam.

Di luar, hujan menulis puisi di kaca — dan di dalam, dua hati membaca luka dengan cara masing-masing.


Selanjutnya Episode 3 : 


Posting Komentar

0 Komentar