Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 17 : Surat Terakhir di Tepi Sawah - Karya R. Abim

  Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 16 Sebelumnya :
Lolong Anjing di Gang Kos


Episode 17 : Surat Terakhir di Tepi Sawah

Sore itu langit muram, seperti menahan tangis yang terlalu lama.
Rama duduk di pematang sawah, ditemani embusan angin dan aroma tanah basah.
Hujan baru saja reda, menyisakan rintik yang jatuh pelan di atas daun padi.
Di tangannya, selembar kertas agak lecek — bekas perjalanan panjang dari kota yang tak memberinya jawaban.

Ia menyalakan rokok, satu-satunya teman bicara yang mau mendengarkan tanpa menyela.
Lalu menulis perlahan dengan tangan gemetar:

“Saras…
aku sudah berhenti menunggumu, tapi entah kenapa, hatiku tak bisa berhenti mencintaimu.”

Setiap huruf seperti duri yang menancap di dada.
Setiap kata terasa seperti langkah mundur ke masa lalu yang enggan pergi.

Rama menatap langit sore.
Awan menggumpal seperti kenangan yang menolak larut, sementara jauh di sawah sana, burung-burung pipit pulang ke sarangnya.
Ia membayangkan Saras — mungkin sedang tertawa bersama teman-temannya di kafe, atau menatap layar ponselnya yang kini tak pernah berdering atas nama Rama.

“Aku tahu, kamu sudah hidup di dunia yang tak bisa aku jangkau, Sar.
Tapi kalau suatu saat kamu merasa sepi, lihatlah langit sore di kampung.
Di sanalah aku menitipkan rinduku.”

Ia melipat surat itu rapi, menyelipkannya di antara halaman buku Biologi yang dulu jadi tempat cinta mereka bersembunyi.
Tak pernah dikirim.
Tak pernah dimasukkan ke amplop.
Hanya disimpan di laci kecil, bersama foto lama dan sebatang pena yang tintanya hampir habis.

Hujan kembali turun, lembut, seperti mengusap luka yang tak ingin sembuh.
Rama berdiri, menatap bentangan sawah yang hijau — tempat semua cerita mereka bermula, dan mungkin berakhir.

Ia menatap ke langit terakhir kalinya sore itu, lalu berbisik lirih:

“Cinta ini tak lagi menunggu, tapi juga tak akan pergi.”


Posting Komentar

0 Komentar

Advertising