Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 15 : Doa yang Tak Pernah Dibalas - Karya R. Abim

  Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 14 Sebelumnya :
Fatamorgana Kota Baruiduk Cinta


Episode 15 : Doa yang Tak Pernah Dibalas

Malam di desa itu masih sama — sunyi, lembab, dan dingin.
Hanya suara jangkrik dan desir angin sawah yang menemani Rama di depan bengkel yang sudah tutup sejak magrib. Di pangkuannya, gitar tua itu masih bergetar pelan, seolah tahu isi hatinya. Di meja kecil, segelas kopi hitam mulai dingin, asapnya tinggal sisa kenangan.

Ia menyalakan rokok, menarik napas panjang, lalu menatap langit yang mulai berawan.
Setiap malam, Rama masih mengirimkan pesan suara untuk Saras.
Sebuah lagu baru yang ia tulis sendiri, dengan suara serak yang menua sebelum waktunya.

“Saras… kalau kau sempat dengar, aku masih di sini.
Masih di jalan yang sama,
tempat dulu kita berhenti hanya untuk mendengar angin.”

Namun malam-malam berlalu tanpa tanda biru di layar ponselnya.
Pesannya terkirim, tapi tak pernah terbaca.
Lagu-lagu itu menggantung di udara, seperti doa yang tak tahu harus singgah di langit mana.

Saras kini hidup di kota besar.
Di antara lampu-lampu kafe, seminar, dan pesta ulang tahun teman-temannya.
Nama “Rama” masih sesekali muncul di pikirannya — tapi semakin samar, tertutup kesibukan, dan jarak yang tumbuh seperti dinding.

Rama tetap menulis.
Buku catatannya kini penuh dengan puisi dan lirik tentang kehilangan yang belum ia akui.
Kadang ia membaca ulang surat-surat lama dari Saras, yang kini mulai menguning, lalu menatap foto mereka saat SMA — tersenyum di bawah flamboyan, daun-daun merah berjatuhan di pundak.

“Mungkin… doa memang tak selalu dibalas dengan jawaban,” gumamnya pelan.
“Kadang Tuhan hanya ingin melihat seberapa kuat hati ini menunggu.”

Di luar, angin berhembus lagi.
Rama memetik gitarnya, menutup mata, dan membiarkan lagu itu lahir pelan:
tentang cinta yang tak lagi mendapat balasan,
namun tetap hidup — karena pernah tumbuh dari ketulusan.


Selanjutnya Episode 16 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising