Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 14 : Fatamorgana Kota Baru - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 13 Sebelumnya :
Bianglala di Atas Lautan


Episode 14 : Fatamorgana Kota Baru

Kota itu menyala seperti langit yang tak pernah tidur.
Lampu-lampu, gedung menjulang, kafe yang tak pernah sepi, dan tawa orang-orang muda yang berlari mengejar mimpi.
Saras melangkah di trotoar dengan ransel di punggung dan hati yang berdebar — bukan karena takut, tapi karena sedang menjemput masa depan.

Universitas barunya megah, penuh wajah asing, namun semua terlihat percaya diri.
Ia berusaha tersenyum, meski di dada ada sesuatu yang tiba-tiba kosong:
nama Rama.

Di kamar kos sederhana, Saras menatap foto kecil di meja — Rama sedang memegang gitar di tepi sawah.
Ia mencoba menulis surat seperti dulu, tapi kalimatnya terhenti di tengah:

“Ram, aku baik-baik saja di sini… tapi entah kenapa, rasanya seperti jauh dari diriku sendiri.”

Sementara itu di desa, Rama menyalakan lampu bengkel kecilnya.
Tangannya kotor oleh oli, tapi di sela kerja, ia masih menatap layar ponselnya yang jarang berdering.
Sinyal di kampung memang buruk, tapi rasa rindu lebih buruk lagi — datang tiba-tiba, dan tak ada tombol untuk mematikannya.

Malam di kota berkilau, penuh musik dan tawa.
Saras duduk di kafe bersama teman-teman barunya, menatap seseorang yang pandai bicara tentang masa depan dan karier.
Senyumnya sopan, tapi di baliknya ada bayangan yang pelan-pelan pudar.
Nama itu masih ada — Rama,
namun mulai terdengar seperti gema yang makin jauh.

Cinta yang lahir dari tanah dan senja kini berjalan di antara kaca dan cahaya —
berusaha tetap hidup, tapi sering tersesat di pantulan bayangan sendiri.


Catatan Pena:
Setiap kota menyimpan fatamorgana — janji-janji yang berkilau dari jauh, tapi rapuh saat didekati.
Saras kini belajar tentang hidup yang luas, sementara Rama belajar tentang sepi yang dalam.
Dan di antara keduanya, waktu mulai menulis jarak yang tak terlihat, tapi nyata.


Selanjutnya Episode 15 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising