Ketika Hujan Menyebut Namamu - Episode 9 : Malam yang Menyisakan Asap - Karya R. Abim

   Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu 

Episode 8 Sebelumnya :

Episode 9 : Malam yang Menyisakan Asap

Malam pulang lebih cepat dari biasanya.
Rendra menyandarkan tubuhnya di kursi teras, membiarkan sisa embun hujan menempel di sandal dan ujung celana.
Lampu taman berkelip redup, seperti ikut menahan lelah dunia yang sudah kebanyakan cerita.

Ia menyalakan sebatang rokok — yang terakhir malam itu.
Bukan karena ingin, tapi karena butuh jeda untuk memahami kata-kata Nayla yang masih bergema di kepalanya:

“Asal jangan kamu biarkan hatimu ikut terbakar, Ren…”

Bara kecil di ujung rokok menyala, menyalin bentuk kenangan yang tak mau padam.
Asapnya naik pelan, menari di antara temaram lampu, seperti kalimat yang tak sempat diucapkan di kafe tadi.

Rendra menarik napas panjang.
Di antara kepulan itu, ia melihat potongan masa lalu:
tawa mereka di halte, surat-surat yang dulu dikirim lewat pos, dan semua rencana kecil yang karam sebelum sempat berlayar.

Kini semuanya tinggal lintingan waktu — seperti tembakau yang terbakar habis, meninggalkan abu yang ringan tapi menyesakkan.

Ia tersenyum tipis.

“Kamu masih sama, Nay,” gumamnya lirih. “Masih bisa membuat aku berhenti bicara, hanya dengan satu kalimat.”

Di halaman rumah, seekor kucing menyeberang pelan.
Jam dinding berdetak tanpa emosi.
Dan di dalam dirinya, Rendra tahu — bukan Nayla yang ia rindukan sepenuhnya, melainkan versi dirinya yang dulu: yang masih berani mencintai tanpa perhitungan, tanpa algoritma, tanpa takut gagal.

Ia menatap bara yang tinggal separuh, lalu berbisik ke malam:

“Mungkin benar… sebagian cinta tak pernah mati. Ia hanya berubah jadi asap, mencari langitnya sendiri.”

Rokok itu akhirnya padam di ujung jari.
Tapi di dada Rendra, bara itu belum juga mati.
Ia menatap langit yang masih menyisakan awan hitam sisa hujan, dan tiba-tiba merasa — malam itu terlalu sunyi untuk dilupakan, tapi juga terlalu jujur untuk diulang.

Lalu ia masuk ke rumah, meninggalkan secangkir kopi dingin di meja teras.
Uapnya sudah hilang. Tapi aromanya… masih ada.
Seperti rasa yang tak bisa dihapus oleh waktu, hanya diredam oleh diam.


Selanjutnya Episode 10 :
Nada yang Tersisa di Chat Lama

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising