Ketika Hujan Menyebut Namamu - Episode 8 : Kopi yang Masih Hangat di Antara Kita - Karya R. Abim

   Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu 

Episode 7 Sebelumnya :

Episode 8 : Kopi yang Masih Hangat di Antara Kita

Hujan baru saja berhenti.
Udara Surabaya sore itu lembap, menyisakan aroma tanah basah yang menyeruak dari trotoar depan kafe tua itu — tempat yang dulu menjadi saksi senyum pertama mereka, juga perpisahan terakhir.

Rendra datang lebih awal.
Ia duduk di meja pojok dekat jendela, meja yang sama, dengan pandangan yang sama: menunggu.
Di depannya, dua cangkir kopi hitam masih mengepul.
Ia tak tahu mengapa memesan dua.
Mungkin karena sebagian dirinya masih percaya Nayla akan datang.

Dan benar saja.
Sepuluh menit kemudian, langkah itu terdengar — pelan, tapi cukup untuk mengacaukan detak jantung.

Nayla muncul di balik pintu kaca.
Tanpa banyak kata, hanya senyum kecil yang terasa lebih jujur daripada ribuan pesan teks.

“Kamu datang,” katanya lirih.
“Kamu juga,” jawab Rendra, setengah gugup, setengah lega.

Mereka duduk.
Hening pertama begitu panjang, tapi hangat.
Kopi di depan mereka mengepulkan aroma pahit yang akrab — seperti masa lalu yang tak sepenuhnya ingin dilupakan.

“Aku hampir tidak percaya, kita duduk di sini lagi,” kata Nayla sambil menatap cangkirnya.

“Aku juga. Bedanya, dulu kita masih berusaha menang. Sekarang… mungkin cuma ingin mengerti.”

“Kamu masih suka menulis puisi?”

“Kadang. Tapi sekarang lebih sering nulis status panjang di Facebook, yang cuma dibaca dua orang,” jawab Rendra sambil tersenyum kecil.

Nayla tertawa pelan, seperti dulu — tawa yang membuat kopi terasa lebih manis dari biasanya.

Mereka lalu larut dalam percakapan yang tidak mereka rencanakan: tentang pekerjaan, kehilangan, dan waktu yang begitu cepat.
Tentang bagaimana hidup mempertemukan kembali dua orang bukan untuk mengulang,
tapi untuk menutup bab yang belum selesai.

Lalu, di tengah obrolan yang semakin sunyi, Nayla membuka ponselnya.
Ia menunjukkan satu catatan digital di layar — puisi yang ia tulis malam sebelum pertemuan ini:

“Jika waktu adalah barista,
maka ia tahu bagaimana menyeduh rindu:
pahit di awal,
tapi meninggalkan manis di ujung bibir.”

Rendra membaca, lalu tersenyum.
Ia menjawab dengan suaranya sendiri — seperti membalas puisi dengan puisi:

“Dan jika cinta adalah kopi,
biarlah ia tetap panas,
walau kita kini sudah terbiasa menyesapnya pelan-pelan.”

Keheningan turun lagi.
Tapi kali ini bukan keheningan yang dingin.
Melainkan yang hangat — seperti uap dari kopi yang masih mengepul di antara mereka.

Hujan kembali turun, pelan, di luar jendela.
Nayla menatap ke luar, lalu berkata:

“Lucu ya, dulu kita takut kehilangan. Sekarang kita tahu… kehilangan juga bagian dari menemukan.”

Rendra mengangguk, menatap wajah yang dulu begitu ia hafal.
Dan dalam hatinya, ia tahu — cinta tidak pernah benar-benar pergi,
ia hanya beristirahat di antara tegukan kopi, menunggu pagi baru yang entah kapan datang.


Selanjutnya Episode 9 :
Malam yang Menyisakan Asap

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising