Ketika Hujan Menyebut Namamu - Episode 7 : Pertemuan yang Tak Direncanakan - Karya R. Abim

  Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu 

Episode 6 Sebelumnya :
Rendra Membaca Pesan Itu

Episode 7 : Pertemuan yang Tak Direncanakan

Malam itu, Rendra membuka Instagram sekadar untuk membunuh sepi.
Ia menggulir layar, melewati wajah-wajah yang tersenyum di dunia yang tampak selalu bahagia.
Lalu, tanpa ia cari, muncul satu nama di beranda — disarankan algoritma dengan dingin,
tapi mengguncang hati dengan hangat: @naylanov.official

Ia terdiam.
Foto itu sederhana: secangkir kopi hitam, sepotong roti, dan caption singkat —

“Beberapa aroma bisa membawa kita pulang.”

Rendra tahu betul kafe di foto itu.
Tempat yang dulu menjadi saksi diam dua orang yang pernah saling diam tapi saling mencintai.
Ia menatap layar, menimbang antara menekan like atau membiarkannya berlalu.
Namun jarinya sudah lebih cepat daripada logikanya.
❤️ — terkirim.

Detik itu juga, di ujung lain kota, Nayla sedang memandangi layar ponselnya.
Ada notifikasi baru:

“rendra.pratama liked your post.”

Tangannya bergetar.
Ia menatap nama itu lama sekali, seperti seseorang yang menemukan kembali surat lama dalam lemari kayu.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti seabad, ia membuka Direct Message.
Kursor berkedip. Lalu ia menulis:

“Ternyata algoritma masih punya rasa.”

Tak ada panggilan “Hai” atau basa-basi, hanya kalimat itu.
Dan entah mengapa, Rendra langsung membalas:

“Mungkin karena rindu juga butuh sinyal.”

Setelah itu, obrolan mereka mengalir — hati-hati, tapi jujur.
Tidak seperti dulu, kini tak ada lagi amarah yang ingin menang.
Tak ada gengsi yang ingin lebih tinggi.
Yang ada hanya dua hati yang sama-sama pernah terluka dan kini belajar menertawakan luka itu.

Mereka berbicara tentang banyak hal: kopi, cuaca, dan kebetulan yang tak masuk akal.
Tentang bagaimana dunia maya bisa mempertemukan dua manusia yang pernah saling kehilangan di dunia nyata.

Malam makin larut, tapi percakapan tak berhenti.
Dan di antara emoji dan tanda titik-titik, ada keheningan yang mengandung makna —
bahwa beberapa pertemuan memang tak direncanakan,
tetapi disiapkan pelan-pelan oleh semesta,
seperti algoritma yang bekerja diam-diam di balik layar.

Sebelum menutup percakapan, Nayla menulis:

“Besok aku di kafe itu lagi. Tempat yang sama, jam yang sama, tapi mungkin dengan rasa yang berbeda.”

Rendra membaca kalimat itu berkali-kali.
Ia tahu, ini bukan sekadar undangan.
Ini mungkin kesempatan terakhir.

Ia menatap layar ponselnya lama, lalu menjawab pendek:

“Aku datang.”


Selanjutnya Episode 8 : 
Kopi yang Masih Hangat di Antara Kita

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising