Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Episode 10 : Nada yang Tersisa di Chat Lama
Hujan dini hari mengetuk jendela seperti pesan yang belum sempat dibaca.
Rendra duduk di ruang tamu, hanya diterangi cahaya ponsel yang memantul di wajahnya.
Jari-jarinya menelusuri layar, membuka kembali ruang percakapan yang sudah terkubur jauh di bawah ratusan notifikasi: “Nayla 🌙”.
Nama itu masih sama — dengan emoji bulan sabit yang dulu dipilih Nayla sendiri.
Ia ingat betul, malam ketika mereka menambahkan simbol itu: katanya, agar tiap pesan terasa seperti bisikan dari langit malam.
Sekarang, hanya ada diam di antara teks yang berdebu.
Rendra menggulir ke atas, membaca potongan pesan lama yang masih tersimpan:
Nayla (2019): “Ren, kalau nanti kita nggak saling sapa lagi… jangan hapus chat ini ya. Biar aku tahu, pernah ada kita di sini.”
Rendra (dibaca, tapi tak dibalas): “…”
Ia menatap kalimat itu lama.
Chat yang dulu diabaikannya kini terasa seperti surat terbuka dari masa lalu.
Setiap kata menjadi cermin, memantulkan sosok dirinya yang dulu terlalu sibuk membangun dinding, bukan jembatan.
Notifikasi dari grup kantor muncul — tapi ia abaikan.
Yang berbunyi di kepalanya bukan suara nada dering, melainkan gema lirih Nayla:
“Aku nggak butuh jawabanmu, Ren. Aku cuma ingin kamu dengar.”
Ia menutup mata, menyesap sisa kopi yang sudah dingin sejak malam tadi.
Lalu kembali membaca pesan terakhir dari Nayla, dikirim dua tahun lalu —
tepat saat ia memilih mundur tanpa penjelasan:
Nayla: “Kadang yang paling menyakitkan itu bukan kehilangan, tapi disimpan tanpa pernah diajak bicara.”
Pesan itu belum dihapus, belum juga dibalas.
Dan mungkin, pikir Rendra, beberapa luka memang dibiarkan terbuka supaya manusia tahu rasanya menjadi manusia — rapuh, tapi masih bisa rindu.
Ia mengetik pelan di kolom chat: “Aku baru baca ulang semua ini, Nay… dan baru sadar, betapa banyak yang tak sempat aku katakan.”
Tapi sebelum tombol kirim ditekan, ia berhenti.
Menatap layar yang menyala, lalu memadam.
“Tidak semua yang pernah hangat harus dinyalakan lagi,” gumamnya.
Namun jauh di dalam dirinya, ada nada lain yang masih bergetar — samar, lembut, seperti not terakhir dari lagu yang tak selesai dimainkan.
Malam kembali diam.
Dan di dalam diam itu, ada cinta yang masih bernapas —
pelan, tapi nyata.

0 Komentar