Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Rendra sebenarnya hanya ingin melihat ulang foto. Sekadar menenangkan resah di tengah malam yang terasa lebih sunyi dari biasanya.
Tapi jemarinya tergelincir.
Pesan itu — satu kalimat pendek yang belum selesai — terlanjur terkirim.
“Aku masih sering mengingat cara kamu tertawa…”
Tak ada tombol “undo” untuk rasa yang terlanjur beranjak dari dada dan berubah jadi notifikasi di layar seseorang yang dulu pernah menjadi rumah.
Pukul 00.47.
Hujan turun di luar, menimpa atap seperti mengetuk nalar yang nyaris hilang.
Rendra terpaku menatap layar. Titik-titik tiga yang berkedip menandakan Nayla membaca pesannya.
Lalu sunyi.
Tak ada balasan.
Dalam dada Rendra, ada sesuatu yang sesak — bukan karena rindu, tapi karena kesalahan yang menelanjangi dirinya sendiri. Ia ingin menarik kembali pesan itu, tapi semesta tak mengenal hapus permanen untuk hal-hal yang lahir dari ketulusan yang tak terkendali.
Ia menyalakan sebatang rokok, mencoba menenangkan diri dengan asap yang berputar di antara lampu kamar.
Dalam pantulan layar, matanya tampak lelah — bukan karena waktu, tapi karena kenangan yang menolak padam.
“Kadang, satu pesan salah kirim bisa mengembalikan seluruh badai yang pernah kita redam,” gumamnya pelan, seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Dan benar saja.
Lima menit kemudian, muncul notifikasi baru:
Nayla: “Kamu masih mengingat aku juga, Ren?”
Jantungnya bergetar. Ada rasa bersalah yang menepi di antara lega dan takut.
Ia tahu — malam ini, percakapan yang seharusnya sudah berakhir, baru saja dimulai lagi

0 Komentar