Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Episode 12 : Balasan di Tengah Hujan
Malam itu, hujan turun deras di luar jendela.
Seolah langit pun sedang menulis ulang kenangan dengan tinta yang basah.
Rendra belum memejamkan mata sejak pesan itu terkirim. Ia menatap layar ponsel yang kini kembali menyala.
Pesan Nayla muncul, pendek tapi cukup untuk mengguncang sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur dalam diam.
Nayla: “Kamu masih mengingat aku juga, Ren?”
Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali, seperti menimbang apakah semesta sedang mengujinya — atau hanya sedang bercanda.
Lalu jemarinya bergerak pelan, membalas:
Rendra: “Beberapa hal tak bisa dilupakan, Nay. Meski sudah seharusnya.”
Tiga titik kembali berkedip.
Di luar, hujan makin deras.
Di dalam, detak jantungnya seperti mengikuti irama rintiknya.
Nayla: “Aku pikir kamu sudah benar-benar pergi. Seperti pesan yang tak pernah lagi kubaca.”
Rendra: “Aku pergi, tapi tidak benar-benar selesai.”
Nayla: “Selesai itu apa, Ren? Kadang kita hanya berhenti bicara, bukan berhenti merasa.”
Rendra terdiam. Kalimat itu menembus layar, menembus jantungnya yang mulai berdetak tak beraturan.
Ia mengembuskan asap rokok, mencoba mencari bentuk kata untuk membalas — tapi yang keluar justru sebuah pengakuan jujur, tanpa filter, tanpa perisai.
Rendra: “Aku sering mencoba berhenti mengingatmu. Tapi tiap kali hujan turun, semuanya kembali. Seperti malam ini.”
Lama tak ada balasan.
Hanya suara hujan dan bunyi notifikasi dari grup kerja yang tak ia pedulikan.
Sampai akhirnya, satu pesan muncul.
Pesan yang membuat waktu seolah berhenti berdetak.
Nayla: “Mungkin, Ren… aku juga belum benar-benar bisa berhenti.”
Rendra mematung.
Hujan di luar belum reda, tapi dalam dirinya, badai sudah mulai tumbuh kembali.
“Rasa memang tak pandai berpamitan,” batinnya.
“Ia hanya menunggu satu pesan balasan untuk hidup lagi.”

0 Komentar