Ketika Hujan Menyebut Namamu - Episode 13 : Suara dari Panggilan yang Tak Terjawab - Karya R. Abim

  Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu 

Episode 12 Sebelumnya :

Episode 13 : Suara dari Panggilan yang Tak Terjawab

Hujan masih menetes di jendela, pelan-pelan menjadi irama sunyi.
Di meja, secangkir kopi sudah dingin. Layar ponsel menyala redup, menampilkan nama yang dulu pernah berarti “rumah.” Nayla.

Rendra menatap layar itu lama — ada keinginan untuk menekan tombol hijau, mendengar lagi suara yang pernah mengisi hari-harinya. Tapi ada juga ketakutan: kalau suara itu kini hanya tinggal gema, tanpa rasa.

Tangannya bergetar ketika akhirnya menekan tombol call.
Nada tunggu berulang, panjang, seperti detik yang enggan berlalu.

Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.

Lalu senyap. Panggilan berakhir tanpa jawaban.

Rendra bersandar. Menutup mata. Menarik napas dalam.
Suara hujan seperti memantulkan pertanyaan yang tak sanggup ia jawab sendiri.

“Untuk apa aku menelepon? Untuk memastikan dia baik-baik saja… atau untuk memastikan aku belum benar-benar move on?”

Beberapa menit kemudian, notifikasi muncul.
Nayla: “Maaf, aku tadi dengar nada deringnya. Tapi aku nggak tahu harus bilang apa.”

Rendra membaca, lalu mengetik pelan:

Rendra: “Aku cuma ingin dengar suaramu sekali saja. Tidak lebih.”
Nayla: “Kalau kamu dengar suaraku, kamu siap kehilangan lagi?”
Rendra: “Aku sudah kehilangan sejak lama. Tapi suara kamu… tetap tinggal di kepala.”

Hening lagi. Kali ini bukan karena hujan, tapi karena dua hati yang saling menahan kata.

Nayla menulis pesan terakhir malam itu:

Nayla: “Mungkin nanti, Ren. Saat aku sudah cukup berani mendengar suaraku sendiri saat bicara denganmu.”

Pesan itu membuat dada Rendra sesak.
Ia menatap ponsel lama-lama, lalu meletakkannya di meja, di samping puntung rokok terakhir yang belum sepenuhnya padam.

Di luar, hujan mulai reda. Tapi dalam dirinya, rintiknya tak pernah berhenti.
Malam itu, Rendra berbisik pada dirinya sendiri:

“Kadang, yang paling menyakitkan bukan panggilan yang tak dijawab, tapi perasaan yang tetap menunggu, meski tahu tak akan disambut.”


Selanjutnya Episode 14 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising