Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Malam belum terlalu larut.
Langit Surabaya berpendar redup, menyisakan sisa hujan yang menggantung seperti kenangan — belum jatuh, tapi tak juga pergi.
Rendra duduk di balkon rumah kontrakannya, menggulir layar ponsel tanpa arah. Ia membuka percakapan lama, menatap ikon kecil bertuliskan “Nayla – Online.”
Sebuah lingkaran hijau yang memantulkan rindu yang tak sempat padam.
Jari Rendra sempat ragu, tapi entah mengapa kali ini tanpa sadar ia menekan tombol video call.
Satu detik… dua detik… ia ingin membatalkan, tapi layar keburu hidup.
Wajah Nayla muncul, setengah kaget, setengah tak siap.
“Rendra… kamu?” suaranya lirih, seperti bisikan yang terbang di antara jarak dan waktu.
Rendra tersenyum canggung. “Aku nggak sengaja. Maksudku… iya, mungkin sengaja. Aku cuma pengin lihat kamu.”
Keduanya terdiam.
Suara hujan dari kejauhan mengisi sela. Listrik redup membuat cahaya dari layar jadi satu-satunya penerang di kamar masing-masing.
Nayla memalingkan wajah sebentar. Ada air di matanya, tapi juga ada senyum yang belum hilang seluruhnya.
“Kamu sekarang beda, Ren. Ada rokok di jarimu. Dulu kamu benci bau asap.”
Rendra tertawa kecil. “Kadang, Nay, hidup memaksa kita mencintai yang dulu kita benci, cuma biar bisa bertahan.”
“Dan kadang,” bisik Nayla, “kita harus benci yang dulu kita cintai, cuma biar bisa sembuh.”
Lama mereka saling diam, membiarkan pandangan saling menafsirkan yang tak sempat diucap.
Wajah di layar seperti dua cermin: satu menatap masa lalu, satu menatap luka yang belum sembuh.
Rendra menatap langit di belakang Nayla — hitam, tapi penuh titik cahaya. “Langit di tempatmu masih hujan?”
Nayla mengangguk. “Masih. Seperti dulu. Seperti waktu kita terakhir kali berlari di bawahnya.”
Rendra tersenyum. “Lucu ya, hujan ini seperti tahu nama kita.”
Nayla menatapnya lama. “Atau mungkin langit memang belum rela melupakan kita.”
Waktu berjalan tanpa terasa.
Mereka tak bicara lagi, hanya saling menatap — dengan jeda, dengan sesal, dengan cinta yang masih mencari cara untuk hidup.
Ketika akhirnya panggilan terputus, Rendra menatap layar yang kembali hitam.
Lalu ia berbisik, seperti doa yang melayang di langit malam:
“Kalau suatu saat kita bisa bertemu lagi, biarlah langit yang lebih dulu memanggil nama kita berdua.”

0 Komentar