Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Angin dini hari berhembus pelan dari arah utara, membawa aroma asin dari laut.
Rendra menyalakan rokoknya — lagi — di teras rumah kontrakan kecilnya di Surabaya. Bara di ujung batang itu seperti bintang yang menolak padam, sementara lagu “Pergilah Kasih” versi Chrisye mengalun lirih dari radio tua di meja kayu.
“Aku hanya ingin engkau tahu… cintaku tak berhenti di sini…”
Lirik itu menembus dadanya, seperti surat yang terlambat sampai.
Di kejauhan, lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan, memecah sunyi pagi yang masih berkabut embun.
Ia menarik napas panjang, menatap ke arah timur, seolah di sana — di balik garis cakrawala — Nayla juga sedang mendengarkan lagu yang sama.
Sementara itu, di kota seberang — Puncak Bandung yang basah oleh sisa hujan — Nayla membuka jendela kamarnya. Embun menetes di kusen kayu. Ia menyentuhnya perlahan, dingin, seperti kenangan yang tak mau hilang.
Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari Spotify: “Lagu yang mungkin kamu suka: Pergilah Kasih – Chrisye.”
Ia terpaku. Jemarinya gemetar.
Di bawah layar, muncul notifikasi lain — dari seseorang yang pernah membuatnya menangis.
“Rendra mengetik pesan…”
Tapi pesan itu tak pernah terkirim.
Hanya titik tiga yang menggantung di layar — seperti jeda panjang antara dua hati yang masih saling memanggil, namun tak berani bersuara.
Rendra berdiri, melangkah pelan ke tepi dermaga kecil di belakang rumah.
Air laut menampar-nampar batu karang, seakan sedang berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti para penyair yang patah hati.
Sebuah kapal nelayan melintas, lampunya berkelip, dan dari arah jauh terdengar suara seseorang menyenandungkan lagu lama — mungkin “Bidadari Tak Bersayap”, atau mungkin hanya dengung ombak yang berirama sedih.
Ia membayangkan Nayla di seberang sana:
berdiri di pelabuhan cinta yang sama, menatap arah yang sama, hanya dipisahkan oleh asap di antara dua kota.
Rendra memejamkan mata.
Dalam imajinasinya, ia dan Nayla menaiki biduk cinta kecil, di bawah langit berawan, berlayar menuju dermaga yang sama — tapi setiap kali hampir tiba, angin selalu mengubah arah layar mereka.
Ia tersenyum getir.
“Cinta ini seperti kapal tanpa nahkoda,” gumamnya. “Kadang tenang, kadang karam di ombak rindu.”
Hujan mulai turun rintik. Asap rokok terakhirnya hilang disapu angin pagi.
Dan ketika lagu Chrisye berakhir, hanya tersisa sunyi — dan gema langkahnya yang kembali ke ruang sepi.
Di seberang sana, Nayla menutup laptopnya, membiarkan air matanya jatuh pelan di atas keyboard.
Ia berbisik pelan, hampir tak terdengar:
“Jika kau masih mendengarkan lagu itu, aku juga belum benar-benar pergi.”
Catatan Penulis :
Di antara dua kota, dua jiwa masih bernafas dalam lagu yang sama.
Kadang cinta tidak berakhir, ia hanya berganti bentuk menjadi asap yang menghubungkan dua hati yang masih menunggu dermaganya.

0 Komentar