Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Suara hujan belum lagi reda. Di warung kecil dekat dermaga Kenjeran, aroma kopi hitam menebar hangat, tapi tak mampu menyingkirkan dingin yang menyelinap di antara dua manusia yang duduk saling berhadapan — Rendra dan Nayla.
Rendra menggenggam gelasnya lama, menatap uap yang mulai menipis seperti waktu yang enggan berhenti. Sedang Nayla, dengan tatapan setengah sayu, menelusuri jejak hujan di kaca jendela. Ada lagu “Langit di Matamu” yang mengalun lirih dari radio tua di pojok warung — lagu yang dulu mereka dengarkan saat malam terasa terlalu panjang untuk diakhiri.
“Masihkah langit itu biru di matamu, Nay?”
suara Rendra pecah di antara dengung hujan.
Nayla menatapnya, lalu tersenyum getir.
“Langitnya masih sama, Ren. Tapi aku sudah tak tahu di mana garis cakrawalanya. Kadang terlalu jauh, kadang terlalu dekat sampai melukai.”
Embun di luar menetes perlahan dari atap, jatuh di jalanan yang mulai becek. Seekor anjing melolong di kejauhan, seolah memahami getir dua hati yang menahan tanya.
Rendra meneguk kopinya. Pahit. Tapi pahit itu justru menghangatkan — seperti luka yang lama disimpan tapi kini terasa akrab.
“Kau tahu, Nay… setiap kali aku menulis, aku selalu berusaha menyingkirkan namamu dari bait-baitku. Tapi selalu gagal. Namamu seperti nada yang tertinggal di gelas kopi — tak habis dihirup, tak bisa juga dibuang.”
Nayla menunduk. Jemarinya menggenggam ujung syal, bergetar.
“Dan aku, Ren… setiap kali mendengar lagu ini, aku selalu menoleh ke pintu, berharap kau datang. Tapi pintu itu tetap diam, seperti malam yang kehilangan bintang.”
Hening.
Hanya hembusan angin laut yang menyusup di sela-sela tembok, membawa aroma asin dan kenangan yang belum selesai.
“Kalau aku boleh jujur,” ucap Rendra perlahan, “aku tak pernah benar-benar pergi. Aku hanya tersesat di antara gelombang — mencari dermaga yang dulu kita sebut rumah.”
Nayla menatapnya dengan mata yang basah, tapi senyumnya tetap lembut.
“Mungkin, Ren, cinta kita memang ditakdirkan menjadi kapal yang berlayar tanpa nahkoda. Tak karam, tapi juga tak pernah sampai.”
Rendra terdiam. Di luar, hujan berhenti. Tapi langit masih kelabu — seperti perasaan yang belum tuntas di dada.
Lagu di radio berhenti. Diganti oleh suara ombak yang menampar batu-batu dermaga.
Rendra memutar gelasnya pelan, menatap sisa kopi yang mengering di dindingnya. Ia tahu, seperti kopi itu, cinta mereka telah berubah bentuk — tapi aromanya tetap tinggal, menolak hilang.
“Mungkin, Nay,” katanya akhirnya, “suatu hari nanti aku akan berhenti menulis tentangmu. Tapi sampai hari itu tiba, biarkan aku menyapa langit di matamu, walau dari kejauhan.”
Nayla tersenyum — senyum yang membawa sepi paling indah yang pernah ada.
Dan saat angin meniup tirai tipis di jendela, keduanya tahu: malam itu, di antara sisa hujan dan aroma kopi, ada nada yang tertinggal — seperti cinta yang menolak mati.
Catatan Penulis :
Seri ini kini mulai memasuki fase penyerahan diri. Di antara hujan, kopi, dan lagu lama, pembaca diajak menatap sepasang jiwa yang tak lagi berjuang untuk memiliki, tapi masih saling menjaga dalam diam.
Cinta, bukan sekadar pertemuan dua raga — melainkan pertemuan dua sunyi yang tak pernah berhenti saling memanggil.

0 Komentar