Ketika Hujan Menyebut Namamu - Episode 17 : Sebelum Ombak Menghapus Nama Kita - Karya R. Abim

Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu 

Episode 16 Sebelumnya :

Episode 17 : Sebelum Ombak Menghapus Nama Kita

Senja di Kenjeran memantulkan cahaya jingga ke wajah Nayla yang memandang jauh, menembus garis laut yang perlahan menelan matahari.
Rendra berdiri beberapa langkah di belakang, membawa sebungkus kopi yang baru diseduh dari warung dekat pelabuhan. Ia menatap punggung Nayla lama — seperti menatap masa lalunya sendiri.

“Masih suka menatap laut, Nay?” suara Rendra pelan, seperti takut merusak keheningan.

Nayla menoleh, senyum kecil muncul di bibirnya.
“Laut selalu mengingatkanku padamu, Ren. Gelombangnya tenang di permukaan, tapi menyimpan badai di dasar.”

Angin laut berhembus lembut, membawa aroma garam dan sunyi. Biduk-biduk nelayan mulai menepi. Suara camar bersahutan di atas dermaga yang mulai sepi.
Sementara, dari kejauhan, terdengar sayup lagu “Biru yang Luka” dari radio nelayan yang masih menyala di kapal — lagu yang pernah mereka dengar di malam perpisahan yang tak pernah selesai.

Rendra menatap laut, matanya redup.
“Kau tahu, Nay… kadang aku berharap waktu bisa berhenti di antara dua hembusan angin — di antara saat aku menatapmu dan saat aku kehilanganmu.”

Nayla menunduk, menahan perih yang mendadak datang seperti ombak kecil di dadanya.
“Tapi waktu tak berhenti, Ren. Ia terus berjalan, seperti ombak yang tak peduli pada karang.”

Mereka terdiam lama. Hanya bunyi ombak dan detak dada yang perlahan menua dalam diam.
Seekor anjing menggonggong di kejauhan — menggaung di antara suara debur air dan ranting kelapa yang bergesekan.

“Aku menulis lagi, Nay,” ucap Rendra akhirnya.
“Kali ini bukan tentang cinta yang pergi. Tapi tentang nama kita, sebelum ombak menghapusnya dari pasir.”

Nayla menatapnya, ada semburat cahaya lembut di matanya — langit senja yang memantul di sana, seperti doa yang belum sempat diucapkan.
“Kalau suatu hari tulisanmu sampai ke tanganku, aku akan membacanya perlahan, sambil menatap laut yang sama. Mungkin di situlah kita akan bertemu lagi — bukan sebagai kekasih, tapi sebagai dua kenangan yang saling mendoakan.”

Rendra menghela napas. Ia tahu, itu bukan janji. Itu perpisahan yang diucapkan dengan cara paling lembut yang bisa manusia berikan.
Ia menatap garis horizon. Ombak datang, menyentuh kakinya. Lalu surut, membawa sisa pasir — seolah ingin menghapus jejak yang mereka tinggalkan di pantai itu.

“Nay…” suaranya hampir tenggelam di antara debur ombak.
“Kalau aku tenggelam nanti, jangan tangisi aku. Karena mungkin aku hanya pulang ke dasar laut yang dulu menyimpan doa-doa kita.”

Nayla menatapnya dengan mata yang berkilat — bukan air mata, tapi cahaya senja terakhir.
“Dan kalau aku berhenti menatap langit, Ren… percayalah, aku sedang melihatmu, di antara riak ombak yang tak pernah letih memanggil namamu.”

Langit berubah keperakan. Ombak menepuk lembut kaki mereka. Di kejauhan, kapal terakhir melintas, suaranya lirih menembus kesunyian.
Rendra menunduk, menggenggam pasir, membiarkannya luruh di sela jemarinya — seperti waktu, seperti kenangan, seperti cinta yang akhirnya harus dilepas.


Dalam edisi ini, Rendra dan Nayla mulai berdamai dengan kepergian.
Bukan lagi tentang siapa yang salah, tapi tentang “Bagaimana mencintai dengan cara melepaskan.”

Pena Bersayap mengajak pembaca berhenti sejenak — mendengar bunyi ombak, mencium aroma laut, dan memahami bahwa “setiap cinta yang tulus tak benar-benar hilang. Ia hanya berpindah wujud menjadi doa yang berlayar di bawah langit yang sama.


Selanjutnya Episode 18 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising