Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Malam turun perlahan di tepian kota. Langit basah. Hujan datang tanpa petir, hanya gerimis yang menetes pelan di sela-sela doa.
Rendra duduk di beranda kamar kosnya, memandangi secangkir kopi yang mulai dingin. Di permukaannya, bayangan lampu jalan menari seperti kenangan yang enggan padam.
Dari ujung kota lain, Nayla menatap jendela kamarnya.
Tetes air hujan mengalir di kaca, seperti menulis huruf-huruf yang tak sanggup lagi ia ucapkan.
Sudah lama ia tidak mengirim pesan. Tapi malam ini, entah kenapa, hatinya seperti ditarik oleh sesuatu — oleh nama yang ia sembunyikan di setiap sujudnya.
“Ya Allah…” bisik Nayla, lirih.
“Kalau memang cinta ini tak harus dimiliki, maka ajarilah aku untuk tidak membencinya.”
Di tempat lain, Rendra juga bersimpuh. Ia membuka mushaf kecil yang dulu sempat ia berikan pada Nayla — kini sudah lusuh, beberapa halamannya mulai pudar.
Ia membaca pelan ayat tentang sabar dan kehilangan, lalu menatap hujan yang menetes di luar.
“Mungkin begini caramu mengajariku, Tuhan.
Agar aku tahu, bahwa mencintai bukan berarti memiliki.
Tapi menjaga — bahkan ketika harus dalam diam.”
Hujan semakin deras. Suara rintiknya seperti dzikir langit, menghapus debu di hati yang lelah.
Di antara lirihnya, Rendra mendengar samar suara adzan Isya dari masjid seberang jalan. Suara itu menembus dadanya — lembut tapi dalam.
Ia tahu, setiap kali adzan berkumandang, selalu ada panggilan untuk pulang — entah pada Tuhan, atau pada seseorang yang dulu membuatnya percaya pada cinta.
Nayla juga mendengar adzan yang sama, meski dari jarak kota yang berbeda.
Dan di sela-sela takbir, mereka berdua mengucapkan nama yang sama — dalam hati, dalam sunyi, dalam doa yang tak saling tahu.
“Semoga engkau baik-baik saja, Ren…”
“Semoga kau juga baik, Nay…”
Langit makin larut. Gerimis berubah menjadi hujan penuh.
Di antara bunyi air yang menimpa atap, keduanya menulis catatan kecil di buku masing-masing — bukan untuk dikirim, hanya untuk diingat.
Catatan Rendra: “Kau pernah jadi sebab kenapa aku percaya pada Tuhan, Nay.
Karena hanya dengan mencintaimu aku belajar arti kehilangan yang tak membuatku hancur, tapi membuatku berdoa.”
Catatan Nayla: “Aku mencintaimu bukan untuk kembali, tapi untuk mengerti bahwa setiap jiwa yang pernah bersentuhan, akan saling mendoakan sampai akhir waktu.”
Subuh nanti, hujan akan berhenti.
Dan mungkin, di bawah langit yang sama, mereka akan sama-sama menatap pagi — dengan dada yang masih sesak, tapi sudah mulai ikhlas.
Karena cinta yang sampai di ujung doa tak lagi meminta apa-apa,
ia hanya berbisik lirih kepada Tuhan:
“Jaga dia, Ya Rabb… seperti aku dulu menjaganya dalam hati.”
Edisi ini menjadi titik balik antara cinta dan keikhlasan.
Setiap tetes hujan menjadi saksi bagaimana dua hati berpisah tanpa kebencian — hanya dengan doa yang saling menguatkan.

0 Komentar