Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Hujan baru saja reda.
Udara masih menyisakan aroma tanah basah — aroma yang dulu selalu membuat Nayla menutup mata dan tersenyum.
Namun malam ini, ia tidak tersenyum. Ia hanya diam, duduk di dekat jendela, menatap gelap yang masih bergetar oleh sisa hujan.
Di kota lain, Rendra juga terjaga.
Ia menulis sesuatu di selembar kertas yang telah basah oleh embun dini hari.
Tinta itu menetes seperti waktu yang kehilangan arah.
Ia menulis bukan untuk dikirim, hanya untuk melepaskan.
“Nayla…”
“Jika aku tak sempat menyapa dalam mimpi, biarlah hujan jadi pengganti.
Sebab setiap tetesnya masih mengucapkan namamu — pelan, tapi tak pernah henti.”
Nayla menarik napas panjang. Ada sesuatu yang berat di dadanya — bukan sesak, tapi rindu yang enggan mati.
Ia tahu Rendra tak akan datang. Tapi entah kenapa, setiap kali hujan jatuh, hatinya selalu menoleh.
Mungkin karena dulu, hujan adalah saksi mereka — ketika cinta masih sederhana, dan perpisahan belum punya nama.
“Aku mencintainya dengan cara yang tidak selesai,” gumam Nayla.
“Dan barangkali, Tuhan pun tahu — beberapa doa memang sengaja dibiarkan menggantung di udara.”

0 Komentar