Ketika Hujan Menyebut Namamu - Episode 20 : Percakapan Tanpa Suara ( Tamat ) - Karya R. Abim

  Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu 

Episode 19 Sebelumnya :

Episode 20 : Percakapan Tanpa Suara ( Tamat )

Rendra memandang langit dari beranda rumah kontrakan kecilnya.
Di tangannya, secangkir kopi yang sudah dingin.
Di kepalanya, suara yang tak lagi bisa ia bedakan: antara doa dan penyesalan.

Rendra: “Aku ingin datang, tapi bukan tubuhku yang sampai. Hanya rinduku yang tak tahu jalan pulang.”

Nayla: “Aku tak ingin kau datang. Aku hanya ingin tahu, apakah hujan di kotamu masih menyebut namaku.”

Dua hati itu bicara di ruang yang tak terlihat, seperti dua lilin yang saling mencari nyala di kegelapan.
Mereka tidak tahu, bahwa di waktu yang sama — satu menulis, satu berdoa — dan di antara keduanya, hujan kembali turun tanpa alasan.

Puisi dari Tengah Malam

Tuhan…
Jika Engkau mempertemukan kami lagi,
jangan di dunia yang sama.

Pertemukan kami di tempat
di mana tidak ada waktu, tidak ada jarak,
hanya sepasang jiwa yang saling mengenal lewat diam.

Nayla menulis bait itu di buku hariannya, sementara Rendra menulis kalimat yang hampir serupa di kertas yang berbeda.
Keduanya tidak pernah tahu bahwa doa mereka hampir sama bunyinya — hanya berbeda tangan yang menulis.

Ketika adzan pertama berkumandang, hujan berhenti.
Rendra melipat kertasnya dan meletakkannya di bawah sajadah.
Nayla menutup bukunya dan menaruhnya di sisi bantal.
Mereka sama-sama tersenyum kecil — bukan karena bahagia, tapi karena akhirnya bisa menerima bahwa beberapa cinta memang hanya ditakdirkan untuk hidup dalam doa.

“Kau tahu, Nayla?”
“Cinta kita tidak gagal… hanya berubah bentuk.”


Catatan Redaksi :

Cinta Rendra dan Nayla adalah cermin dari banyak kisah di sudut kota ini — kisah orang-orang sederhana yang mencintai tanpa janji, dan berpisah tanpa benci.
Mereka tidak kalah, hanya tidak sempat selesai.
Dan di dunia yang sering lupa makna kesetiaan batin, doa mereka adalah bentuk perlawanan — bahwa cinta tidak harus memiliki, cukup dikenang dengan cara yang suci.

Ketika doa tidak selesai, sesungguhnya cinta masih bekerja.
Ia hidup di udara, di hujan, di antara dua hati yang tetap saling menyebut nama, meski tanpa suara.


TAMAT

NEXT : CERBER : PEREMPUAN YANG MENYIMPAN LANGIT

Baca Juga :
Cerber : Jejak Rindu di Balik Layar



Posting Komentar

0 Komentar

Advertising