Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 1: Langit di Matamu, Saras - Karya R. Abim

Cerita Bersambung :

Perempuan Menyimpan Langit

Karya R. Abim


PROLOG

Ada cinta yang lahir dari kata-kata,

ada yang tumbuh dari tatapan,
dan ada pula yang tercipta dari doa yang tak sempat diucapkan.

Perempuan yang Menyimpan Langit” adalah kisah tentang cinta yang sederhana namun tak pernah selesai — cinta yang berawal dari hujan di halaman sekolah, tumbuh di antara bau tembakau dan debu jalanan, lalu perlahan menjelma doa di bibir senja.

Rama Dwiatmojoanak petani dengan motor butut dan gitar tua,
jatuh cinta pada Saras Wening, putri pejabat yang menyukai embun dan senyap pagi.
Dunia mereka berbeda, tapi langit yang menaungi tetap satu.
Di bawah langit itu pula, mereka belajar bahwa cinta bukan sekadar tentang memiliki,
melainkan tentang menjaga yang tak bisa dijaga, dan merelakan yang tak bisa direngkuh.

Seri ini akan membawa pembaca menyusuri waktu —
dari bangku SMP hingga akhir masa kuliah,
dari tawa di bawah pohon flamboyan sampai air mata di tepi laut.
Di sana, Cinta tidak lagi hanya urusan dua hati,
melainkan perjalanan jiwa melintasi kesenjangan sosial, luka batin, dan pengertian spiritual.

Aroma kopiasap rokokhembusan angin, dan petikan gitar
akan menjadi saksi setiap pertemuan dan perpisahan.
Ada senja yang membisu, embun yang jatuh di seragam putih abu,
jangkrik yang bernyanyi di balik malam, dan debur ombak
yang mengabarkan bahwa bahkan batu karang pun tahu:
beberapa cinta hanya diciptakan untuk dikenang, bukan untuk dimiliki.

Lewat tangan Cak Abim (APJ) — sang penyair jalanan —
seri ini bukan sekadar cerita, tapi cermin jiwa bagi generasi muda
yang hidup di antara notifikasi gawai dan sunyi batin.
Di sini, cinta kembali menemukan maknanya:
bukan tentang siapa yang akhirnya bersanding,
melainkan siapa yang tetap bertahan menjaga langit di hatinya.

Selamat memasuki perjalanan baru.
Siapkan secangkir kopi, sebatang rokok, dan ruang kecil dalam dada.
Sebab mulai malam ini, kita akan menyusuri lagi jejak langkah dua anak manusia
yang tumbuh bersama waktu,
dan belajar mencintai dengan cara yang paling sunyi —
dengan memandang langit yang sama.


Episode 1 : Langit di Matamu, Saras

Ada cinta yang tak berani lahir, hanya menetas dalam tatapan yang tergesa.
Ada rindu yang tak berani pulang, karena rumahnya sudah berubah menjadi doa.
Aku — yang dulu menulis namamu di balik buku Biologi, kini menulisnya di langit malam,
berharap Tuhan masih sudi membaca.

Hujan, kopi, dan petikan gitar — semuanya masih sama,
hanya tanganmu yang tak lagi ada di situ.

Tapi tak apa, Saras…
karena langit tetap menyimpanmu, bahkan ketika aku tak lagi sanggup menyebut


Hujan turun pelan sore itu. Tidak deras, tapi cukup membuat halaman sekolah berbau tanah basah dan atap seng menitikkan suara seperti detak waktu yang sedang berpikir.
Rama Dwiatmojo berdiri di bawah pohon mangga dekat lapangan. Seragam putih abu-abu-nya sudah mulai kusam, ujung celananya sedikit belepotan lumpur, dan di tangannya tergenggam gitar butut — peninggalan kakaknya yang dulu gagal jadi musisi jalanan.

Ia baru saja menyelesaikan tugas piket sore, ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok gadis berseragam biru muda berjalan tergesa melewati gerbang belakang sekolah.
Payung putih di tangannya memantulkan cahaya langit abu-abu.
Senyumnya muncul sekilas — sederhana, tapi menenangkan seperti embun yang jatuh di antara daun singkong di sawah rumah Rama.

Namanya Saras Wening.

Ia bukan siswi di sekolah Rama.
Ia berasal dari SMP negeri sebelah — sekolah yang lebih besar, lebih rapi, dengan gedung bercat baru dan halaman yang sering jadi tempat upacara pejabat kabupaten.
Ayahnya, kata teman-teman Rama, seorang pejabat di dinas pendidikan.
Sedangkan Rama? Hanya anak petani tembakau yang tiap pagi berangkat sekolah dengan motor butut dan rokok kretek di saku celana.

Tapi sore itu, di bawah hujan dan bau tanah yang menguap, semua perbedaan itu hilang.
Yang tersisa hanyalah detak jantung yang berlari mendahului logika.

“Ada langit di matanya,” gumam Rama pelan.
“Langit yang membuatku ingin belajar berani menatap hari esok.”

Malamnya, Rama duduk di beranda rumah.
Hujan sudah reda, hanya suara jangkrik dan lolong anjing di kejauhan yang menemani.
Di meja kayu reyot, segelas kopi hitam mengepul, dan gitar tua bersandar di lututnya.
Ia mulai memetik tiga nada pelan — do re mi — tak sempurna, tapi cukup untuk membuat udara di sekelilingnya menjadi hangat dan asing sekaligus.

Ibunya lewat, membawa selimut. “Kamu nggak belajar, Nak?”
“Belajar, Bu… belajar tentang langit,” jawab Rama sambil tersenyum samar.

Ibunya tak mengerti.
Tapi mungkin Tuhan tahu: malam itu, seorang anak petani baru saja jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Dan cinta itu, tanpa ia sadari, akan menjadi perjalanan panjang — dari kopi ke rindu, dari gitar ke doa, dari hujan ke kehilangan.

Keesokan paginya, hujan belum sepenuhnya pergi. Embun masih melekat di ujung daun tebu.
Rama berangkat sekolah dengan motor tuanya yang batuk-batuk di tanjakan.
Tapi hatinya, untuk pertama kali, terasa ringan.
Setiap tikungan, setiap tiupan angin, seolah membisikkan satu nama:
Saras. Saras. Saras.

Di pundaknya tergantung tas lusuh, di dalamnya terselip buku Biologi dengan halaman kosong di bagian belakang — tempat ia menulis puisi pertamanya malam itu:

Aku melihat langit di matamu, Saras
dan di sana aku ingin belajar percaya,
bahwa meski aku hanya anak sawah,
aku masih boleh bermimpi menatapmu tanpa rasa takut.


Selanjutnya Episode 2 :  “Surat di Buku Biologi”

Posting Komentar

0 Komentar