Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Pagi di bulan September itu, udara masih menyimpan sisa embun.
Suara jangkrik di sela pepohonan mulai mereda, digantikan kokok ayam yang memanggil hari.
Di meja belajar kecilnya, Rama Dwiatmojo membuka buku Biologi kelas 9 — halaman tentang mekanisme fotosintesis.
Namun di sela-sela catatan tentang klorofil dan cahaya matahari, terselip sesuatu yang tak pernah diajarkan di kelas:
sebaris kalimat yang bergetar, berbau kopi, dan penuh rahasia.
“Saras… kalau daun perlu cahaya untuk hidup, mungkin aku perlu senyummu untuk bertahan.”
Rama menatap tulisan itu lama.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia tahu, kata-kata itu terlalu indah untuk dibaca sendiri — tapi terlalu takut untuk dikirimkan.
Di sekolah, suasana masih riuh.
Guru Biologi menjelaskan anatomi bunga, sementara murid-murid lain sibuk menulis catatan.
Namun Rama malah menggambar wajah Saras di pojok halaman buku.
Hanya sepasang mata — mata yang waktu itu ia lihat di bawah payung putih, sore saat hujan jatuh dan langit sedang belajar menangis pelan.
Ketika bel istirahat berbunyi, Rama duduk di bangku belakang, membuka bekal sederhana — nasi jagung dan tempe goreng.
Ia menatap teman-temannya yang tertawa, lalu diam-diam mengeluarkan secarik kertas dari buku Biologinya.
Ia menulis lagi, pelan-pelan:
“Kalau nanti kita ketemu lagi di bawah langit yang sama, biarkan aku menatapmu tanpa harus menunduk.
Karena menatapmu adalah cara paling jujur aku memahami hidup.”
Sore hari, setelah kelas tambahan, Rama sengaja menunggu di depan sekolah sebelah.
Ia tahu, Saras selalu pulang jam setengah lima, diantar mobil dinas ayahnya.
Motor butut Rama terparkir di bawah pohon flamboyan, masih menyimpan aroma bensin dan debu jalanan.
Hujan belum turun, tapi angin sore berhembus lembut — membawa bau laut dari kejauhan.
Petikan gitar dari warung kopi depan sekolah terdengar samar.
Seseorang menyanyikan lagu lama Katon Bagaskara yang entah kenapa terasa pas dengan hatinya sore itu.
Lalu, dari balik gerbang, Saras muncul.
Rambutnya diikat rapi, langkahnya ringan.
Rama hanya bisa menunduk, memeluk buku Biologinya erat-erat — seolah di dalamnya tersimpan rahasia yang terlalu indah untuk dibiarkan terbang.
“Rama…”
Suara itu lirih. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berhenti sesaat.
Saras menatapnya sekilas, lalu tersenyum.
“Kamu masih suka gambar di buku, ya?”Rama gugup. Ia ingin menjawab, tapi yang keluar hanya gumaman,
“Iya… kadang kalau nggak bisa ngomong, ya cuma bisa gambar.”
Saras mengangguk.
Senyumnya meneduhkan, seperti langit setelah hujan reda.
Ia melangkah pergi, meninggalkan aroma sabun dan kenangan yang pelan-pelan tumbuh jadi puisi.
Malam itu, Rama duduk di beranda lagi.
Petikan gitarnya pelan, nyaris tak bersuara.
Kopi di gelasnya sudah dingin, tapi hatinya hangat oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Ia menulis lagi di halaman belakang buku Biologinya:
Cinta itu seperti akar tanaman, Saras.
Ia tumbuh di bawah tanah, diam, tapi kuat.
Tak terlihat, tapi menahan seluruh batang agar tak tumbang.
Dan di ujung kalimat itu, ia menulis pelan:
“Untuk Saras Wening — perempuan yang menyimpan langit.”

0 Komentar