Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 3 : Petikan Gitar di Tepi Senja - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 2 Sebelumnya :

Surat di Buku Biologi


Episode 3 : Petikan Gitar di Tepi Senja

Langit sore seperti permen kapas yang sedang larut pelan — jingga, ungu, lalu memudar jadi kelabu.
Dari pematang sawah di ujung desa, Rama Dwiatmojo duduk bersandar pada batang kelapa, gitar tua di pangkuannya, dan segelas kopi hitam di tanah, masih mengepulkan uap pelan.
Angin sore berhembus, membawa aroma garam dari laut dan suara jangkrik yang mulai menggema dari balik semak.

Hari itu hari Sabtu. Sekolah sudah usai lebih awal.
Dan seperti biasa, setelah membantu ayahnya menimba air di sumur dan memberi makan sapi, Rama memilih singgah di tepi sawah — tempat sunyi yang selalu jadi saksi hatinya.
Ia menatap langit yang berangsur senja dan mulai memetik gitar.
Nada-nada sederhana mengalun — kadang sumbang, kadang nyaris pas — tapi baginya, suara gitar itu adalah cara untuk bicara tanpa harus mengucapkan apa pun.

“Saras…” bisiknya pelan, “kalau saja langit ini bisa bicara, pasti ia sudah tahu semua rahasiaku.”

Dari kejauhan, suara langkah kaki terdengar di jalan tanah.
Seseorang datang, membawa warna baru pada sore yang sendu itu.
Saras Wening, dengan rambut dikepang dua dan tas selempang kain batik, melangkah mendekat.
Ia baru pulang dari toko alat tulis, membeli kertas gambar untuk tugas sekolah.

“Rama?” Suaranya lembut, sedikit ragu.
Rama menoleh, nyaris tak percaya.
“Saras… kamu lewat sini?”
“Iya, jalan pintas ke rumah. Kamu sering di sini, ya?”

Rama hanya tersenyum, mencoba menutupi gugupnya dengan memetik gitar lagi.
Senja di belakang mereka membuat bayang-bayang tubuh memanjang di tanah berlumpur.

“Lagunya bagus,” kata Saras. “Judulnya apa?”

“Belum ada,” jawab Rama. “Masih aku simpan di antara senja dan debu jalanan.”

Saras tersenyum kecil. Ia duduk di atas batu karang kecil dekat sawah, menatap Rama yang terus memetik gitar.
Angin sore meniup rambutnya, menebarkan aroma sabun yang sederhana namun sulit dilupakan.

Rama kemudian memberanikan diri menatapnya, lalu berkata lirih: “Kalau nanti aku bisa bikin lagu, aku mau kasih judul Langit di Matamu.”

Saras tertawa kecil. “Kamu ini… aneh. Tapi aku suka anehmu.”

Hening.
Hanya suara angin, bunyi serangga, dan debur ombak jauh di seberang bukit.
Rama merasakan dadanya hangat, seperti senja yang tak ingin pergi.
Ia tahu, hari itu sesuatu telah berubah — bukan pada langit, tapi pada hatinya.

Ketika matahari benar-benar tenggelam, Saras berdiri.
“Aku pulang dulu, Ram. Makasih ya… lagunya indah.”
“Aku cuma main asal, kok,” balas Rama.
“Tapi asalmu itu, bikin aku tenang.”

Ia melangkah pergi perlahan, meninggalkan jejak di tanah basah.
Rama menatap punggungnya sampai hilang di tikungan jalan.
Lalu ia menatap gitar di tangannya, tersenyum pelan.
“Petikan ini, Saras… akan terus hidup setiap senja datang.”

Malam itu, di rumah, Rama menulis di buku Biologinya lagi:
Ada suara jangkrik yang menirukan detak jantungku,
dan ada bayangmu di antara tiupan angin.
Aku tidak tahu apakah ini cinta, Saras

tapi setiap kali matahari turun,
aku selalu ingin menulis namamu di udara.

Dan di bawah tulisan itu, ia menorehkan satu kalimat pendek —
“Senja ini milik kita berdua, meski hanya dalam diam.”


Selanjutnya Episode 4 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising