Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 4 : Embun di Rambutmu, Saras - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit

Episode 3 Sebelumnya :
Petikan Gitar di Tepi Senja


Episode 4 : Embun di Rambutmu, Saras

Pagi itu, udara terasa jernih.
Langit biru pucat, matahari baru saja menanjak di balik pucuk-pucuk kelapa.
Suaranya burung manyar bersahutan di antara batang padi yang mulai berisi, dan di sepanjang pematang, embun masih bergelayut di ujung daun.

Rama Dwiatmojo mengendarai motor bututnya pelan-pelan.
Suara knalpotnya batuk-batuk, seperti ikut menertawakan semangatnya yang terlalu pagi.
Di belakang, diikat dengan tali rafia, sebuah gitar tua ikut berguncang setiap kali roda melewati jalan berlubang.
Ia tak punya alasan jelas berangkat sepagi itu — selain satu hal yang tidak pernah ia sebut pada siapa pun: ingin melihat Saras.

Saras Wening setiap pagi melewati jalan kecil itu untuk menuju halte angkutan sekolah.
Kadang membawa tas besar, kadang menenteng buku gambar.
Dan Rama tahu, di jam enam lewat sepuluh, langkah kakinya akan melewati pohon trembesi di tikungan — tempat embun masih enggan jatuh.

Hari itu pun sama.
Rama berhenti di dekat pohon itu, berpura-pura memperbaiki rantai motor.
Tapi matanya sibuk mencari arah langkah yang ia hafal.
Dan benar, Saras datang.
Rambutnya sedikit basah oleh sisa embun, ada kilau matahari pagi di ujung helainya.

“Rama?” suaranya lembut, agak terkejut.
“Pagi amat udah di sini?”
“Hehe… motor rewel, Sa. Takut telat, makanya berangkat duluan.”

Saras tersenyum kecil, lalu menatap gitar di punggung Rama.

“Gitar itu nggak pernah lepas, ya?”

“Nggak juga. Kadang dia yang bikin aku semangat. Kadang malah bikin tambah kangen.”

“Kangen sama siapa?”

“Sama pagi, sama senja, sama… langit,” jawab Rama sambil menunduk.

Saras tertawa kecil, ada rona merah di pipinya.
Embun di rambutnya berkilau, dan Rama tahu — di momen itu, dunia seperti berhenti sejenak.

Mereka berjalan beriringan menuju halte.
Langkah Saras ringan, sementara Rama mencoba menyembunyikan degup jantungnya yang berlari mendahului kata.
Sesekali angin berhembus, membawa aroma tanah basah dan daun muda.

Sebelum berpisah, Saras berkata lirih,
“Rama, nanti sore aku ikut lomba baca puisi di sekolah. Datang, ya?”
“Kalau nggak ada yang rusak di sawah, aku datang.”
“Jangan kalau, datang aja.”

Rama hanya mengangguk, tapi senyum Saras sudah cukup membuat hari itu menjadi doa panjang.

Sore hari, ia datang diam-diam ke sekolah Saras.
Dari balik pagar, Rama menyaksikan Saras naik ke panggung kecil di aula, membacakan puisi berjudul ‘Tentang Hujan yang Tak Jadi Pergi’.
Suara Saras lembut tapi dalam, seperti menyapa langsung ke dada Rama.
Dan di tengah bait terakhir, Rama merasa sesuatu di dalam dirinya retak pelan — retak yang indah.

“Jika hujan jatuh di rambutmu, biarlah aku jadi embun,
menetap di sana sebentar saja,
sebelum matahari menjemput kita dengan cahaya yang tak abadi.”

Tepuk tangan bergemuruh. Saras menunduk.
Rama ikut bertepuk tangan pelan dari balik pagar — dan saat itu, untuk pertama kali, ia sadar:
ia bukan hanya sedang jatuh cinta. Ia sedang belajar memahami makna hidup.

Malamnya, di beranda, dengan secangkir kopi dingin dan gitar di pangkuan, Rama menulis di buku Biologinya lagi:

Embun di rambutmu, Saras,
membuat pagi seperti puisi yang tak selesai.
Aku ingin menjadi uap yang menguap di pundakmu,
agar bisa ikut hilang tanpa sempat pamit.

Ia menutup bukunya perlahan, lalu menatap langit yang mulai bertabur bintang.
Gitar tua di tangannya kembali bergetar — memainkan nada yang sama sejak senja di sawah itu.
Nada tentang cinta pertama yang diam, tapi hidup di setiap hembusan angin.


Selanjutnya Episode 5 :
Ketika Angin Belajar Menyebut Namamu

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising