Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 4 Sebelumnya :
Embun di Rambutmu, Saras
Angin musim kemarau bertiup lembut dari utara.
Ia membawa debu jalan, aroma jerami kering, dan suara daun pisang yang saling bergesekan.
Di antara desir itu, Rama Dwiatmojo seperti mendengar sesuatu yang samar — nama yang ia kenal betul, tapi tak pernah benar-benar ia dengar di telinga:
Saras.
Setiap kali angin menyentuh wajahnya, Rama merasa seolah dunia berbisik pelan,
mengingatkannya pada senyum gadis berambut hitam yang pernah ia lihat di bawah payung putih dan di panggung puisi sore itu.
Hari-hari berlalu.
Saras kini sering lewat di jalan sawah tempat Rama biasa memperbaiki rantai motornya.
Kadang mereka hanya bertukar sapa, kadang cukup saling menatap — seperti dua rahasia yang tak ingin diungkapkan dunia.
“Pagi, Rama.”
“Pagi, Saras.”
“Kamu nggak bantu Bapak di sawah?”
“Udah tadi. Sekarang bantu angin belajar bicara.”
Saras tertawa kecil, lalu berjalan pergi sambil menenteng tas sekolahnya.
Rama hanya bisa memandangi langkah itu, dan di dadanya, sesuatu mulai tumbuh diam-diam seperti bunga liar di tepi jalan.
Sore hari, Rama duduk di teras rumah dengan gitar tua di pangkuan.
Kopi hitam mengepul, dan di kejauhan, langit mulai menguning.
Ia memetik lagu yang belum selesai ia beri nama, lalu menulis bait di buku Biologi yang kini sudah hampir penuh:
Angin sore datang membawa suaramu,
lembut, nyaris tak terdengar,
tapi cukup untuk membuat daun-daun bergetar.Mungkin karena rinduku terlalu ringan,
hingga ia bisa menumpang pada udara.
Ibunya lewat, tersenyum melihat Rama yang larut dalam pikirannya sendiri.
“Rama, kamu suka main gitar sekarang, ya?”
“Iya, Bu. Soalnya kalau nggak main, angin di kepala nggak mau diam.”
Keesokan harinya di sekolah, guru Bahasa Indonesia meminta siswa menulis puisi bertema Alam dan Kehidupan.
Rama menulis tanpa banyak berpikir. Ia menulis tentang angin, sawah, dan seseorang yang namanya hanya muncul di setiap spasi sunyi.
Angin tidak punya wajah,
tapi ia bisa membawa nama seseorang jauh-jauh,
melewati ladang, sekolah, dan waktu yang pelan berjalan.Aku tidak tahu di mana ujungnya,
tapi setiap kali ia datang,
aku mendengar namamu lagi.
Puisi itu sederhana, tapi guru memujinya.
Namun Rama tahu — ia tidak menulis untuk nilai, tapi untuk menenangkan hati yang tak tahu harus bicara pada siapa.
Suatu sore, saat ia pulang dari sawah, Rama melihat Saras berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot yang tak kunjung datang.
Ia menghentikan motornya.
“Saras, ayo tak antar.”
“Nggak usah, nanti motormu protes,” canda Saras sambil menunjuk motor butut Rama.
Rama tertawa. “Dia sudah biasa, kok. Asal kamu nggak takut angin.”
Mereka berdua akhirnya melaju di jalan desa yang berdebu, senja memantul di kaca spion.
Rambut Saras terurai, ditiup angin ke wajah Rama, dan di momen itu — dunia seperti berhenti.
Tak ada suara selain desau angin, tak ada jarak selain degup yang sama.
“Kalau angin bisa bicara, Saras,”
“aku rasa, dia akan menyebut namamu lebih sering daripada aku berani melakukannya.”
Malamnya, di halaman rumah, Rama menatap langit.
Bintang-bintang berkelip, seolah menyalin tatapan Saras di bawah sinar sore tadi.
Gitar di tangannya kembali berbunyi, dan dari sela napasnya, ia berbisik pelan:
“Saras… angin malam ini memanggilmu lagi.”
Di buku Biologi yang kini sudah usang, Rama menulis catatan terakhir untuk hari itu:
Angin sudah pandai menyebut namamu, Saras.
Tinggal aku yang belajar berani mengucapkannya tanpa takut kehilangan langit.

0 Komentar