Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Episode 4 : Pertemuan di Kafe Tua
Kafe itu masih sama. Lampu gantungnya redup, musik jazz-nya pelan, dan aroma kopi bercampur hujan yang masih menetes di luar.
Rendra duduk di sudut, menatap cangkir yang belum disentuh — kopi hitam yang mulai dingin seperti percakapan yang tak kunjung dimulai.
Pintu berdering pelan saat dibuka. Dan waktu seakan berhenti di antara langkah perempuan itu.
Nayla.
Masih dengan tatapan teduh yang sama, tapi kini ada garis lelah di sudut matanya — jejak dari perjalanan panjang tanpa peta.
Ia duduk tanpa bicara, hanya menatap meja di antara mereka.
Sunyi menebal.
Hanya terdengar detak hujan di kaca dan suara sendok kecil memecah diam.
Nayla: “Kupikir, waktu bisa menghapus semuanya, Ren.”
Rendra: “Tidak. Ia hanya menyembunyikan luka di bawah senyum.”Nayla: “Aku datang bukan untuk mengulang.”
Rendra: “Tapi matamu masih sama — masih bicara dalam bahasa yang dulu aku pahami.”
Mereka tertawa kecil.
Tawa yang terasa canggung, tapi juga hangat.
Rendra kemudian membuka buku catatan kecil yang selalu dibawanya.
Halaman tengahnya berisi puisi yang tak pernah selesai — dan hari itu, ia melanjutkannya:
“Jika waktu adalah jarak,
maka jarak adalah cara Tuhan menguji rindu.
Dan jika rindu adalah luka,
maka aku telah sembuh — hanya karena melihatmu.”
Nayla menunduk, matanya berkaca.
Ia mengeluarkan selembar kertas lusuh dari tasnya — surat yang pernah ia tulis lima tahun lalu, tapi tak pernah ia kirim.
Nayla: “Aku menulis ini saat kau menikah. Tapi tak pernah punya keberanian untuk menghapus namamu.”
Rendra menatap surat itu lama.
Ia tak membacanya, hanya menggenggamnya erat.
Hujan di luar tiba-tiba reda. Tapi di dada mereka, ribuan tetes kenangan masih turun perlahan — tanpa suara, tanpa jeda.
Di setiap kafe tua, selalu ada meja yang menyimpan kisah dua manusia yang terlambat saling memahami.
Dan di antara aroma kopi dan hujan sore, cinta yang pernah gugur ternyata tak mati — hanya bersembunyi menunggu keberanian untuk disapa lagi.

0 Komentar