Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Episode 3 : Hujan yang Menyimpan Wajah
Hujan datang lagi sore itu. Tidak deras, tapi cukup untuk memantulkan bayangan lampu jalan di genangan trotoar, seperti kenangan yang enggan kering. Rendra berdiri di bawah pohon angsana depan kampus lama mereka — tempat yang sama di mana Nayla dulu menunggu dengan buku catatan dan payung birunya.
Ia datang tanpa rencana. Tapi entah mengapa langkahnya selalu berakhir di tempat itu setiap kali hidup terasa berat. Di udara basah itu, aroma tanah seperti membuka pintu masa lalu.
“Kau masih menunggu di sini, Nay?”
bisik Rendra lirih, seolah hujan bisa mengirimkan suaranya ke masa silam.
Tiba-tiba, dari arah seberang jalan, ada seorang perempuan berjalan cepat dengan payung biru — warna yang sama. Rendra menatap tajam, seakan waktu terhenti. Tapi begitu payung itu mendekat, yang tampak hanyalah wajah muda seorang gadis yang tidak ia kenal. Ia tersenyum sopan lalu berlalu.
Namun, langkah Rendra gemetar — karena di payung itu tertulis nama kecil yang dulu hanya dimiliki oleh satu orang: “Nay.”
Hatinya bergetar. Mungkinkah ini kebetulan? Atau isyarat bahwa kenangan tak pernah benar-benar selesai?
Rendra lalu menatap langit yang gelap, dan seuntai kalimat terbit di dadanya — puisi yang ia tulis dengan napas sendiri:
“Hujan bukan air, tapi surat rahasia dari waktu.
Ia menetes dari langit, mencari siapa yang dulu pernah berjanji, lalu lupa menepatinya.”
Ia menunduk. Di tangannya, ponsel bergetar — satu pesan baru muncul.
Dari Nayla.
“Aku baru pulang ke Surabaya. Ada banyak hal yang belum selesai antara kita, Ren.”
Hujan tiba-tiba terasa lebih deras.
Langit seperti ikut bicara, menulis ulang kisah dua hati yang tak sempat berpamitan.
Di persimpangan waktu, beberapa cinta tidak perlu dimenangkan.
Cukup ditemukan kembali, dalam hujan yang sama — di bawah langit yang menyimpan wajah yang tak pernah hilang.

0 Komentar