Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Episode 2 : Langit yang Menyimpan Surat
Sejak pertemuan itu, hujan tak lagi terasa biasa bagi Rendra.
Setiap tetesnya seperti mengetuk ruang hati yang lama terkunci, mengingatkan pada mata bening Nayla yang menatap dalam tanpa janji.
Ia mulai menulis lagi — bukan puisi, melainkan surat-surat yang tak tahu hendak dikirim ke mana.
Surat-surat itu berisi namanya.
Nama yang datang bersama payung biru, lalu menetap di antara baris-baris doa yang tak pernah disuarakan.
“Kepada seseorang yang kusebut dengan nada hujan,
aku tak tahu harus memulai dari mana.
Tapi setiap kali gerimis datang,
aku merasa sedang berbicara denganmu.”
Rendra menulis itu di halaman belakang buku puisinya.
Lalu ia menatap langit — awan bergulung seperti selimut kenangan yang menolak pudar.
Sementara itu di tempat lain, Nayla duduk di jendela kamarnya.
Ia menatap langit yang sama, dan entah mengapa, hatinya seperti membaca sesuatu yang tak tertulis.
Di antara desir angin dan bau tanah basah, ia merasa seseorang sedang memanggil namanya dari kejauhan.
“Lucu ya,” gumamnya,
“aku merasa dirindukan oleh seseorang yang belum sempat kukenal.”
Malam itu hujan turun pelan, seperti sedang mengantarkan pesan dari langit ke bumi.
Nayla menulis di buku harian kecilnya:
“Ada nama yang belum kuucapkan,
tapi sudah kupeluk di dalam diam.
Bila hujan ini adalah caramu menyapaku,
biarlah aku menunggu, meski langit tak berjanji akan cerah.”
Dan di waktu yang sama, di kamar berbeda, Rendra menatap langit yang sama.
Ia menutup bukunya, menghela napas, lalu berkata lirih,
“Mungkin surat ini tak pernah sampai padamu, Nayla.
Tapi aku yakin, langit akan menyimpannya untuk kita.”
Ada cinta yang tak perlu dijemput dengan tangan, karena ia berjalan sendiri lewat cahaya hujan dan arah angin.
Langit adalah saksi paling setia dari perasaan yang belum tiba — tapi tak pernah hilang.

0 Komentar