Hujan datang tanpa permisi, seperti kenangan yang tiba-tiba mengetuk pintu hati.
Orang-orang berlarian mencari teduh, tapi di antara kerumunan itu, seorang perempuan bergaun krem berdiri memandangi trotoar yang basah.
Namanya Nayla. Ia bukan takut hujan, hanya sedang menimbang apakah ia masih sanggup menunggu — seseorang yang entah siapa, entah dari mana, tapi terasa akrab di dada.
Di seberang jalan, Rendra baru saja keluar dari toko buku tua.
Di tangannya tergenggam buku puisi dengan sampul lusuh, dan sebuah payung biru yang entah kenapa baru kali ini ingin ia buka lagi, setelah lama disimpan bersama kenangan yang tak selesai.
Hujan menyatukan pandangan mereka.
Seketika dunia di antara langkah-langkah tergesa dan bunyi klakson terasa berhenti.
Nayla menatap payung biru itu — seperti pernah melihatnya di mimpi yang ia lupa kapan.
Rendra menatap mata Nayla — seperti membaca puisi yang dulu sempat ia tulis tapi tak pernah dikirim.
“Mbak… mari, saya bantu menyeberang,” ucap Rendra pelan.
Nayla hanya mengangguk.
Payung biru itu terbuka di atas mereka, menciptakan ruang kecil di tengah derasnya hujan — ruang yang seolah disediakan Tuhan hanya untuk dua orang asing yang sedang diingatkan bahwa cinta kadang datang tanpa aba-aba.
“Namamu?” tanya Rendra setelah mereka sampai di seberang.
“Nayla,” jawabnya singkat, tapi suaranya bergetar seperti senja yang menahan perpisahan.
“Aku Rendra,” balasnya.
Mereka tak tahu harus berkata apa setelah itu.
Namun di bawah payung biru yang mulai meneteskan sisa gerimis, dua hati yang pernah kehilangan mulai berdetak dalam satu ritme yang sama.
Kadang hujan bukan sekadar air yang jatuh dari langit — ia adalah cara alam menyatukan dua kesunyian dalam satu teduh.
“Rendra dan Nayla mungkin belum saling mengenal, tapi langit sudah lebih dulu menulis nama mereka di antara awan-awan yang membawa kenangan.“
Bersambung Ke-2 : “Langit yang Menyimpan Surat”

0 Komentar