Ketika Hujan Menyebut Namamu - Episode 1 - Karya R. Abim



 “Ketika Hujan Menyebut Namamu” bukan sekadar kisah cinta; ia adalah perjalanan jiwa seorang lelaki yang kehilangan arah, dan seorang perempuan yang datang bukan untuk menetap, melainkan untuk menyembuhkan.

Hujan yang turun bukan hanya air, melainkan bahasa alam — tentang penebusan, tentang amarah yang luluh, dan tentang cinta yang mencari tempat pulang.

Di bawah langit yang kelabu, dua hati akan bertemu.
Bukan untuk memiliki, mungkin hanya untuk saling memahami.
Namun seperti bumi menanti hujan, hati manusia pun selalu menanti kesempatan kedua dari semesta.


Episode 1 : Ketika Hujan Menyebut Namamu

Hujan sore itu turun perlahan. Tidak deras, tidak juga enggan. Seolah tahu, ada hati yang sedang belajar mengingat dengan pelan-pelan.
Rendra berdiri di bawah kanopi kafe tua di sudut Kota-Lama Surabaya. Aroma tanah basah bercampur kopi hitam yang sudah mendingin di tangannya.
Dari kejauhan, bayangan seorang perempuan melintas—membawa payung biru yang pernah ia kenal.

Namanya Nayla. Atau mungkin sekadar gema dari masa lalu yang menolak padam.

Ia muncul setiap kali hujan turun, seperti puisi yang tak selesai ditulis, seperti doa yang terus mencari ujungnya.
Dan Rendra tahu, ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka—sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh waktu, hanya oleh hujan.

“Hujan tak pernah benar-benar turun sia-sia,” batin Rendra.
“Ia hanya menyembunyikan air mata yang ingin kembali ke langit.”

Setiap tetes hujan yang jatuh di trotoar seakan menyebut namanya — Nayla… Nayla…
Lembut, tapi pasti. Seolah langit sendiri tak rela melupakan.

Kau datang bersama hujan,  
membasuh jejak langkah yang kutinggal.  
Antara rintik dan diam,  
aku temukan bayangmu,  
yang tak pernah benar-benar pergi.  

Di bawah langit yang basah itu, Rendra tersenyum samar.
Hujan kali ini bukan sekadar cuaca. Ia adalah panggilan—sebuah awal baru untuk kisah yang pernah ditinggalkan di ambang jendela waktu.


Dan mungkin… kali ini, hujan benar-benar menyebut nama yang sama dengan jantungnya.


Selanjutnya Episode 2 :
Pertemuan di Bawah Payung Biru

Posting Komentar

0 Komentar