Cerber : Ketika Hujan Menyebut Namamu
Episode 5 : Pesan yang Tak Pernah Dikirim
Nayla menatap layar ponselnya yang retak di ujung kiri bawah. Di situ, dalam kotak chat WhatsApp bernama Rendra, ada tulisan kecil:
“mengetik…”
Lalu berhenti.
Lalu muncul lagi.
Lalu hilang.
Begitu setiap malam — seperti ombak yang tak pernah menemukan pantai.
Ia menulis sesuatu, lalu menghapusnya lagi.
Kadang hanya satu kata: “Maaf.”
Kadang satu kalimat: “Aku masih sering mencari bayanganmu di antara notifikasi yang datang.”
Namun semuanya berakhir sama — unsent message, pesan yang tak pernah benar-benar dikirim.
Suatu malam, ia merekam voice note. Suaranya pelan, seperti takut pada gema sendiri.
“Ren… mungkin kau tak ingin tahu, tapi aku ingin jujur. Aku masih menyimpan sore di mana kau menatapku tanpa bicara. Aku bodoh, menukar ketulusanmu dengan kesibukan, dengan ambisi, dengan orang lain yang tak tahu caranya mencintai dalam diam…”
Ia berhenti. Menghela napas. Lalu menutup rekaman itu tanpa menekan tombol send.
File itu tersimpan otomatis di draft folder, bersama foto-foto yang tak berani ia hapus.
Lalu, malam itu ia menulis di catatan ponselnya — bukan status, bukan caption, tapi seperti doa yang tersesat:
“Cinta, kadang tak mati — hanya bersembunyi di memori cloud, menunggu seseorang menekan tombol restore.”
Dan sebelum tidur, Nayla berbisik pada dirinya sendiri:
“Aku sudah menulisnya, tapi aku belum siap mengirimnya.”

0 Komentar